Kamis, 30 September 2010 10:13 WIB News Share :

Insiden Jakarta, polisi harus tindak preman dan sponsor

Jakarta–Bentrokan yang terjadi di depan Kantor Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (PN Jaksel) dinilai sebagai aksi premanisme. Untuk itu polisi ditantang untuk memberantas preman hingga ke akarnya.

“Kalau preman kan nyata. Di mana kumpulnya. Kenapa nggak berani? Apa ada cukongnya? Ada orang kuat di belakangnya? Siapa pun gembong dan sponsornya tindak!” ujar anggota Komisi III DPR, Didi Irawadi Syamsuddin, Kamis (30/9).

Didi menilai pertikaian antarkelompok preman yang ada saat ini sangat erat kaitannya dengan bisnis keamanan di Ibu Kota. Untuk menyelesaikan masalah ini polisi harus berani menindak para pihak yang memanfaatkan mereka.

“Lakukan tindakan sampai ke akarnya, jangan hanya pion di lapangan saja sementara pentolannya berkeliaran, mengendalikan dari belakang,” kata Didi.

Didi menambahkan, insiden di Jl Ampera Raya telah menimbulkan ketakutan bagi masyarakat. Bahkan polisi dianggap seperti tidak ada saat bentrok terjadi.

“Jangan diadakan pembiaran sehingga menjadi tontonan yang mengerikan. Ini bagaimana? Masihkan ada polisi yang melindung masyarakat?” tanyanya.

Didi mengatakan polisi tak perlu menunggu operasi khusus untuk menindak para preman ini. Dia berharap tindakan tegas terhadap para preman dapat mengangkat citra Polri yang terus terpuruk. “Segeralah tindak, jangan tunda-tunda. Apalagi sebelum BHD berakhir buat dijadikan momentun untuk menaikkan kepercayaan masyarakat yang anjlok,” ujar politisi dari Partai Demokrat ini.

dtc/try

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…