percetakankeluarga.com
Rabu, 29 September 2010 05:34 WIB Issue Share :

Kesejahteraan rakyat masih menjadi mimpi...

Jabatan adalah sebuah amanah sudah seharusnya dipegang oleh siapapun yang menjabat. Namun sering kali para pemimpin lupa akan konsekuensi jabatannya, bahkan yang lebih parah lagi mengkhianatinya.

Kesejahteraan rakyat adalah hal yang selayaknya dipenuhi para pemimpin negeri ini karena atas jasa rakyatlah mereka bisa mencapai posisi saat ini. Ironisnya, hal tersebut seakan jauh panggang dari api, belum tercapai sama sekali.

Kondisi inilah yang memaksa salah satu seniman Wayang Kampung Sebelah, Ki Jlitheng Suparman, angkat bicara melalui karyanya yang berjudul Petruk Nagih Janji. Lakon yang dipentaskan di Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo, Senin (27/9) malam tersebut menceritakan tentang tokoh petruk sebagai simbol rakyat kecil yang nagih janji kepada para pemimpin yang diwakili oleh tokoh Pak Lurah berkaitan dengan kesejahtaraan rakyatnya.

Malam itu, Ki Jlitheng menggunakan dua jenis wayang yang berbeda yakni wayang purwa dan wayang ciptaannya sendiri yang merupakan tokoh-tokoh pada masa sekarang ini. Mulai awal pertunjukan, para penonton dibuat tertawa terbahak-bahak lewat guyonan segar khas Ki Jlitheng.

“Uwong kuwi samsaya sugih, malah samsaya bodho. Contone presiden kae, mbukak lawang mobil bae ora isa, ndadak ngengkon anak buahe (Orang itu, semakin kaya justru semakin bodoh. Contohnya presiden, membuka pintu mobil saja tidak bisa, sampai harus meminta bantuan anak buahnya -red),” celetuk Ki Jlitheng.

Pentas yang dimulai pukul 22.00 WIB itu memberikan suguhan yang sangat komunikatif, Ki Jlitheng selalu memakai bahasa yang mudah dipahami serta sesekali berinteraksi dengan penonton.

Kemeriahan acara semakin lengkap oleh alunan musik yang dipandegani Max Baehaqi.  Mereka menyanyikan lagu antara lain Makadir, Bintang Pentas, Sluku-Sluku Bathok dan Parlemen Babu.

Dalam aksinya, Ki Jlitheng juga sempat menyindir para pejabat negeri ini yang sering mengadakan kunjungan ke berbagai negara dengan dana yang sangat besar namun tak berdampak besar terhadap kemajuan bangsa.

Ia juga menyentil rencana pembangunan gedung DPR yang lebih mirip tempat wisata karena fasilitasnya terlampau mewah.

“Saat ini kesejahteraan rakyat masih menjadi mimpi, dan itu telah berlangsung sejak zaman dahulu kala,” tutur Ki Jlitheng, ketika dijumpai Espos seusai pentas. Ia mengungkapkan akar permasalahan tersebut adalah bobroknya mentalitas para pemimpin negeri ini mulai dari pusat hingga daerah.

“Dibutuhkan figur pemimpin yang kuat betul atau kekuatan yang memimpin betul,” pungkasnya.

Imam Abdul Rofiq

lowongan pekerjaan
Juara Karakter Indonesia, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Bersenang-Senang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/11/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini terjadi perubahan secara radikal pada lanskap ekonomi dan bisnis di Indonesia. Sektor bisnis konvensional…