Rabu, 29 September 2010 01:26 WIB Sragen Share :

Kala hujan menjadi musuh produsen kerupuk…

Adonan yang berasal dari terigu, pati dan campuran bumbu kini telah berubah wujud menjadi potongan kerupuk mentah berwarna coklat keemasan. Sudah dua hari calon kerupuk yang kenyal itu dijemur di bawah terik mentari.

Di atas sebuah terpal coklat yang dihamparkan, ribuan adonan siap digoreng menjadi kerupuk jari alias kerupuk stik yang lezat di lidah. Namun apa daya, belakangan hujan selalu turun sekitar sejam selepas adzan duhur berkumandang.

Hujan yang turun sebelum adonan kerupuk itu mongering sukses membuat para karyawan di industri pembuatan kerupuk jari milik warga Jeruk, Miri, Romli, kalang kabut.

Kerupuk segera dikumpulkan sebelum diguyur hujan, terpal digulung cepat-cepat agar besok kembali bisa digunakan untuk menjemur kerupuk.

“Musuh para pembuat kerupuk ya hanya ini, hujan. Cuaca yang tidak menentu begini, saya harus tambah satu hari lagi untuk menjemur kerupuk. Biasanya cukup dua hari, sekarang butuh tiga hari,” penjelasan, yang terdengar bak keluhan itu mengalir lancar dari mulut Romli, saat berbincang dengan Espos, Selasa (28/9).

Ada gurat kekelahan yang tampak dari wajahnya. Maklum, cuaca yang tak menentu dengan perubahan yang ekstrem saat ini, praktis membuat beban pekerjaannya bersama delapan karyawan, menumpuk.

Akibat selanjutnya, tentu saja, produksi kerupuk tak bisa berjalan optimal. Jika biasanya, Romli mampu memproduksi antara 12-13 kuintal kerupuk jenis kerupuk jari dan kerupuk kedelai, kini hanya 8 kuaintal yang sanggup dirampungkan. Padahal, permintaan dari berbagai kota terus mengalir.
“Terpaksa harus turun produksi, tidak bisa dipaksakan. Karena keringnya kerupuk itu tergantung matahari,” tandasnya.

Bukan saja membuat waktu pengeringan kerupuk kian lama, cuaca yang ekstrem saat ini juga berpeluang memunculkan jamur pada produk kerupuk. Untuk mencegahnya, produsen harus rajin membolak-balik kerupuk agar pengeringan berlangsung merata di seluruh bagian kerupuk.

Produsen juga harus cekatan, untuk memastikan kerupuk berhasil diamankan sebelum hujan datang menerjang. Jika hal itu tak berhasil, maka tidak mustahil jamur bersemayam di beberapa bagian kerupuk. Ketika itulah, produsen dipaksa jeli memeriksa dan memisahkan kerupuk yang ditumbuhi jamur dengan kerupuk yang layak jual.

“Kerupuk yang ada jamurnya, rasanya tidak enak. Tidak pantas dijual. Jadi harus dipisahkan dulu, sebelum dikemas untuk dipasarkan. Mata harus teliti bekerja memilih, jamur sedikit saja kerupuk tak boleh dijual,” kisah Sri, karyawan industri kerupuk udang Mas Sairi, Desa Ketro, Tanon.

Tika Sekar Arum

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…