Rabu, 29 September 2010 22:51 WIB Issue Share :

Di bawah pohon Kamboja, Milko beristirahat untuk selamanya

Sejak Rabu (29/9) pagi, puluhan orang dari berbagai latar belakang mulai berdatangan ke sebuah gang di daerah Semanggi RT 02/RW V, Pasar Kliwon, Solo.

Mereka semua ingin memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu pelawak legendaris Kota Solo, Sri Mulyati atau yang akrab disapa Milko, yang meninggal Selasa (28/9) sore. Tak dapat dipungkiri, peran Milko dalam panggung hiburan khususnya seni ketoprak memang sangat besar.

Seniman kelahiran Solo, 3 februari 1953 ini telah memulai kariernya sejak usia sembilan tahun lewat pentas ketoprak tobong dari kampung ke kampung. Pada tahun 1999, Milko juga menjabat sebagai ketua umum Partai Seniman dan Dagelan Indonesia (Parsendi). Ia juga pernah bermain dalam sebuah film berjudul Aku Cinta Indonesia (ACI) yang ditayangkan di TVRI tahun 1980-an.

Ketidakmampuan Milko dalam hal baca tulis sampai saat ini ternyata tidak berpengaruh terhadap aksinya di atas pentas. Justru dengan kepolosannya itulah, ia mampu menciptakan sebuah dagelan yang khas sehingga mampu mengocok perut para penonton yang menyaksikannya.

Kepiawaiannya bermain ketoprak mengantarkannya menjadi salah satu pemeran utama sekaligus pengisi tetap acara Pangkur Janggleng di stasiun TVRI Yogyakarta yang ditayangkan setiap hari Senin pukul 20.00 WIB, sejak tujuh tahun lalu.

“Milko adalah pelawak yang sangat cerdas, jadi peran apa saja tetap bisa ndagel,” tutur salah satu seniman senior Solo, ST Wiyono, ketika ditemui Espos, Rabu (29/9). Wiyono menambahkan Milko merupakan seniman yang bisa ngayomi.

“Dipasangkan dengan siapa saja pasti bisa, baik tua maupun muda,” paparnya. Ia menyampaikan kekhasan lawakan Milko terletak pada gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan tingkahnya yang kocak.

Sementara itu, pelawak Srimulat, Mamiek Prakoso, ketika dihubungi Espos menyampaikan bahwa Milko adalah salah satu seniman tulen. “Almarhumah adalah sosok wanita yang jujur dan apa adanya,” kata Mamiek. Ia mengungkapkan terakhir bertemu Milko ketika pentas bersama di Solo tahun 2009 lalu. Pria yang mengenal Milko sejak tahun 1977 ini mengungkapkan Milkolah yang mengajarinya untuk selalu bermain secara total dan bersungguh-sungguh ketika berada di atas pentas. ”

Aja neka-neka ben tumoto, ayo ditindakke, begitulah pesannya,” ujar pria yang pernah bermain dalam film King ini.

Siang itu, jenazah Milko diberangkatkan dari rumah duka pukul 13.00 WIB. Isak tangis anggota keluarga serta para seniman Solo dan Yogyakarta mengiringi kepergian sang pelawak legendaris ke tempat peristirahatan terakhir di TPU Purwoloyo, Pucangsawit, Jebres, Solo. Di bawah dua pohon kamboja ia berbaring untuk selama-lamanya, namun karyanya akan abadi sepanjang masa.

m95

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…