Selasa, 28 September 2010 15:36 WIB Tekno Share :

Pertahankan pasar, Mozilla fokus ke komunitas lokal

Jakarta–Mozilla Firefox merupakan salah satu browser paling populer di Indonesia, dengan pangsa pasar mencapai 70 persen. Apa strategi Mozilla dalam mempertahankan eksistensinya?

Bertempat di Intercontinental Hotel, detikINET berkesempatan berbincang dengan Mitchell Baker, Chairwoman Mozilla Foundation serta CEO Mozilla Corporation.

“Di Indonesia pangsa pasar browser kami mencapai sekitar 69 – 70 persen dan kebanyakan digunakan dalam bahasa Inggris. Namun kini Firefox memiliki opsi bahasa Indonesia,” paparnya.

Menurut wanita berambut nyentrik itu, alasan yang membuat orang Indonesia menggunakan Firefox bervariasi. Yang pertama Firefox merupakan produk yangcukup bagus dan juga gratis. Kemudian yang kedua adalah komunitas lokal, yang membuat Firefox di Indonesia berkembang cukup pesat saat ini.

Saat ditanya adakah strategi khusus untuk memperluas dan mempertahankan pangsa pasaranya ia menjelaskan. “Strategi kami dalam porsi besar adalah tetap melanjutkan fokus kepada komunitas lokal,” paparnya.

Mozilla fokus ke komunitas lokal

“Dalam Mozilla sebagian besar karyawannya merupakan partisipan dan juga sukarelawan. Ini semua karena kami merupakan perusahaan non-profit, dimana di dalamnya banyak orang mencurahkan energi dengan nyaman,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, kombinasi karyawan dan sukarelawan yang bekerja sama itu menghasilkan produk dengan kualitas bagus.

“Intinya kami bakal menghadirkan produk yang lebih baik, yang berfokus pada kustomisasi, cita rasa lokal dan yang tak kalah penting berfokus pada orang-orang yang mengembangkannya yang sebenarnya bukan karyawan resmi,” jelasnya

Saat disinggung bahwa kompetitor mereka, Google Chrome lebih dulu menggaet pasar
lokal denganĀ  theme artis lokal Indonesia, Mitchell pun menjawab. “Tentu saja kami akan lebih mengembangkan cita rasa lokal tersebut. Tapi mungkin tidak dengan cara yang sama,” imbuhnya di akhir perbincangan.

dtc/nad

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…