Selasa, 28 September 2010 23:43 WIB Boyolali Share :

LSM di Boyolali tolak pengadaan Mobdin DPRD

Boyolali (Espos)–Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Boyolali yang tergabung dalam jaringan kerja advokasi anggaran menolak kegiatan penganggaran mobil dinas (Mobdin) yang dilakukan Sekretariat Dewan (Sekwan).

Penolakan sejumlah LSM itu dilakukan dengan mengirimkan surat resmi ke Badan Anggaran DPRD Boyolali, Selasa (28/9). Juru Bicara jaringan kerja advokasi anggaran Boyolali, Dyah Ningrum Roosmawati mengatakan sejumlah LSM yang tergabung antara lain Pepari, Pergerakan Indonesia, PC Fatayat, Lentera, Maarif Institute, LPM UNB, LKTS, Lakpesdam, Pattiro, Kelompok Swadaya Perempuan Boyolali dan FKGB itu menolak pengadaan Mobdin dengan alasan karena tidak etis dan tidak layak dilakukan di saat kemiskinan dan akses pendidikan Boyolali menjadi persoalan utama untuk diselesaikan.

“Apalagi sering di jumpai mobil dinas baik unsur pimpinan maupun komisi di pakai untuk kepentingan pribadi. Menurut KPK penggunaan pribadi itu sudah masuk korupsi,” ujarnya dalam rilis yang diterima Espos, Selasa.

Selain itu, alasan lain penolakan, jelas Dyah, karena Boyolali merupakan salah satu kabupaten di Jateng dengan jumlah penduduk miskin cukup banyak. Dari data BPS 2010, jumlah penduduk 931.537 orang, jumlah penduduk miksin sebanyak 256.542 jiwa atau 26,12 persen. “Data di Dinas Pendidikan tahun 2009 sebanyak 3.559 anak usia sekolah tidak bisa menikmati layanan pendidikan, karena miskin dan tidak bisa mengakses beasiswa dari pemerintah,” tandas dia.

Dyah mengatakan sebagai solusi atas penolakan pengadaan Mobdin itu, pihaknya berharap anggaran itu bisa di realokasikan ke beasiswa bagi anak yang orangtuanya miskin dan anak putus sekolah. Selain itu bisa digunakan revitalisasi Posyandu yang selama ini tidak tersentuh oleh kebijakan anggaran daerah.

fid

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…