Senin, 27 September 2010 10:27 WIB Hukum Share :

Pasangan selingkuh diarak keliling kampung

Tuban–Asyik indehoi, pasangan yang dimabuk cinta, Rasiyo, 45, dan Sunar 42, asal Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Tuban digerebek massa. Keduanya diarak ke balai desa setempat.

Peristiwa itu terjadi, Senin (27/9) dinihari. Sebelum dibawa ke balai desa keduanya sempat dipukuli oleh massa. Beruntung polisi dari jajaran Polsek Semanding segera datang ke lokasi dan mengamankan mereka ke Mapolsek.

Informasi yang dihimpun, hubungan  asmara antara Rasiyo yang sudah beristri dan berputra dua dengan janda Sunar ini telah lama tercium warga. Warga tak bisa berbuat apa-apa karena belum memiliki bukti yang kuat.

Keberuntungan tak berpihak kepada Rasiyo. Saat bertandang tengah malam di rumah kekasih, jejaknya ketahuan warga. Warga pun beramai-ramai mengintip pasangan yang sedang indehoi di dalam kamar. Tak lama kemudian warga mulai menggedor pintu, sebagian lain membarikade seluruh pintu dan jendela rumah.

Rasiyo mencoba kabur dari pintu belakang. Namun, puluhan massa menghadang, dia kembali ke dalam rumah. Keduanya pasrah digiring massa ke balai desa. Selama perjalanan dari rumah Sunar ke balai desa, Rasiyo dihadiahi bogem mentah salah satu saudara istrinya. Tak hanya itu, seorang lagi yang tak mampu mengendalikan diri memukul Rasiyo dari belakang.

Mereka ‘diadili’ warga yang dipimpin kepala desa, Namun pengadilan ala warga tak berlangsung mulus karena warga sudah demikian meradang. Mereka hendak menghajar pasangan itu di tempat. Melihat gelagat yang tak menguntungkan, polisi yang sudah datang di balai desa langsung mengamankan pasangan tersebut. Mereka diangkut dengan mobil patroli ke Mapolsek Semanding.

“Kami sebenarnya sudah lama curiga keduanya ada hubungan khusus, baru malam tadi terbukti dan digerebek massa,” kata Sholeh, Kaur Umum di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Tuban kepada wartawan di Desa Jadi.

Sejumlah warga menyatakan, mereka tak bisa menerima pasangan selingkuh di desanya. Mereka meyakini perbuatan yang melanggar norma agama tersebut bakal menyusahkan warga. “Oleh karena itulah mas, warga mengamuk dan melakukan penggerebekan,” tutur Gopar, salah satu warga.

dtc/try

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…