Senin, 27 September 2010 14:41 WIB News Share :

MMI
Islam tak pernah benarkan perampokan teroris

Jakarta–Dalam mengumpulkan modal (fa’i) untuk melancarkan aksi terorisme, para teroris sering melakukan perampokan. Mereka menghalalkan kejahatan ini karena menganggapnya sebagai bentuk jihad.

Pemikiran itu sama sekali tidak menggambarkan perilaku yang diajarkan Islam. Oleh sebab itu, harus dipisahkan antara Islam dan terorisme.

“Islam itu bukan teroris. Itu mutlak harus dipisahkan. Kalau mereka merampok dengan mengatasnamakan jihad seperti yang mereka lakukan di Indonesia, itu bukan Islam. Keliru mereka melakukan itu,” kata Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Irfan S Awwas, Senin (27/9).

Irfan menjelaskan tindakan perampokan harta musuh (fa’i) hanya dibenarkan jika dilakukan dalam kondisi perang. Perang yang dimaksud adalah perang melawan musuh Islam. “Itu tidak boleh sembarang perang, kalau di Afghanistan yang diserang Amerika, mereka dibenarkan melakukan fa’i. Tapi kalau di Indonesia, melawan siapa? Yang mereka teror juga tak jelas jadinya,” ujarnya.

Menurut Irfan, kesalahan ideologi para teroris itu tidak bisa dihubungkan dengan Islam. Sebab Islam sudah memiliki aturan yang tak pernah menghalalkan perampokan kecuali dalam keadaan perang. “Itu sudah diatur dalam Islam, itu murni kesalahan ideologi mereka (teroris) yang menghalalkan perampokan. Padahal tidak benar sama sekali,” tuturnya.

dtc/try

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…