Sabtu, 25 September 2010 01:19 WIB Klaten Share :

Bermula dari teras rumah, kini ingin membelah dunia...

Sanggar itu bernama Lima Benua, sebuah nama yang melukiskan betapa besarnya cita-cita yang digantung di sana. Lokasinya yang berada di ujung jalan Dukuh Gritan Belang Wetan Klaten Utara, tak membuat sanggar itu seperti terasing.

Justru yang tampak adalah terbitnya sebuah harapan. Sebab, anak-anak miskin telantar yang menimba ilmu di sana seperti kembali menemukan ruang berkreativitas yang selama ini terampas oleh takdir sosial.

“Mereka itu sebenarnya bukan beban negara. Berikan mereka ruang berkreativitas, maka mereka akan menjelma potensi raksasa,” kata pendiri sanggar tempa Lima Benua, Hari Purnama di hadapan rombongan Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al Jufri saat berkunjung ke sanggarnya, Kamis (23/9).

Anak-anak, di mata Hari Purnama barangkali adalah cahaya purnama. Mereka memberi harapan yang terang ketika nasib sebuah bangsa dipertaruhkan masa depannya. Dan anak-anak itu adalah embrio yang akan melanjutkan sejarah kebesaran Nusantara ini.

Itulah sebabnya, lelaki berambut gondrong ini seakan menggenggam cahaya terang ketika sanggar Lima Benua itu ia rintis bersama istri tercintanya, Hidayati sepuluh tahun silam.

“Dulu hanya tempat bermain anak-anak di teras rumah. Tapi, ke depannya kami ingin nasib anak-anak di sini bisa terangkat hingga tingkat dunia,” kata Hidayati.

Mimpi Hidayati itu barangkali tak ubahnya lamunan kosong di siang bolong. Namun, siapakah yang sanggup membendung mimpi besar setiap insan. Di sana, memang tak tersedia gedung raksasa atau perabotan mewah layaknya sekolah-sekolah bertaraf internasional.

Di sana, juga tak ada para penyandang dana besar dari para pengusaha berkelas. Di sana, sekali lagi, hanyalah sebuah sekolah untuk kaum miskin papa yang mungkin telah dilupakan orang.

“Namun, kami mengajarkan kemauan yang keras, tekad yang kuat dan keyakinan bahwa Tuhan akan memeluk setiap mimpi kita,” katanya.

Selama sepuluh tahun berdiri, sanggar Lima Benua memang telah membuktikan jati dirinya menjadi rumah penempa ratusan kaum miskin dan anak telantar. Mereka ditempa untuk menjadi desainer, menjadi musisi, menjadi seniman, dan menjadi siapa saja asal memiliki kepercayaan diri.

Semua itu, mereka tebus bukan dengan modal uang, namun dengan kemauan dan niat yang kuat.

“Sebenarnya, sekolah ini digratiskan bagi anak-anak yang benar-benar tak mampu. Namun, yang sekolah ke sini ternyata dari kalangan tak mampu semua,” pungkas Hidayati.

Aries Susanto

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…