Jumat, 24 September 2010 02:37 WIB Issue Share :

Seniman dituntut miliki strategi manajemen

Solo (Espos)–Saat ini, keberadaan seni dan industri seakan sudah menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Disadari atau tidak, arus industrialisasi telah merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan manusia, tak terkecuali bidang kesenian.

Sistem industri yang merambah dunia kesenian biasanya memanfaatkan teknologi sebagai sebuah sarananya. Perubahan sistem dan kondisi tersebut memerlukan sikap yang tepat untuk menyikapinya agar orang yang terlibat di dalamnya mampu untuk tetap survive.

Hal itulah yang coba direspons oleh tiga seniman besar Indonesia yakni Garin Nugroho, Afrizal Malna dan Rahayu Supanggah dalam sebuah diskusi kesenian bertema Seni dan Industri yang digelar di Sanggar Wayang Suket, Mojosongo, Jebres, Solo, Rabu (22/9) malam.

“Teknologi bukan sebuah masalah, tapi justru dapat dijadikan sarana bagi para seniman untuk berhubungan dengan khalayak,” tutur Rahayu Supanggah.

Pria yang pernah memperoleh penghargaan sebagai Best Composer dalam Asian Film Award tahun 2007 ini menambahkan dalam menyikapi gencarnya arus industrialisasi di negeri ini, dibutuhkan sebuah sikap profesionalisme yang tinggi.

Sementara itu, penyair Afrizal Malna menyampaikan di Indonesia belum ada sebuah lembaga yang berfungsi untuk menjaga nilai jual karya para seniman sehingga penentuan kualitas karya tidak selalu bersifat objektif.

“Di Singapura sudah ada sebuah lembaga yang disebut kurator negara yang berfungsi menjaga penghargaan bagi para seniman. Di  Indonesia lembaga seperti itu belum ada,” jelas lelaki kelahiran Jakarta, 7 Juni 1957 ini.

Sutradara kenamaan Indonesia, Garin Nugroho, memaparkan para seniman harus mempunyai strategi manajemen budaya dan kemampuan membaca fenomena yang baik supaya bisa produktif melahirkan karya-karya yang berkualitas.

“Pencipta tanpa sistem manajemen yang baik seperti menyeberang jalan di jalan tol. Kelihatannya kosong tapi bahayanya sangat besar,” kata pria yang saat ini tengah sibuk menyiapkan film terbaru berjudul The Mirror Never Lies ini.

m95

lowongan pekerjaan
Fila Djaya Plasindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…