Jumat, 24 September 2010 00:54 WIB Solo Share :

Sangkar batik rambah pasar antar pulau

Solo (Espos)–Nama besar batik tidak lagi dimanfaatkan untuk urusan sandang saja, namun dapat dikembangkan ke jenis kerajinan lainnya. Misalnya kreativitas sangkar burung yang dihiasi dengan motif batik.

Pengrajin sangkar burung asal Tegalrejo, Sondakan, Istu Legowo Wardoyo, mampu memadukan seni batik dengan sangkar burung. Dan hasilnya, sangkar burung buatannya semakin cantik sekaligus menambah nilai jual. “Pelanggan saya ada yang dari Jakarta, Sumatra dan Kalimantan,” kata Wardoyo saat dijumpai Espos di rumahnya, Tegalrejo RT 3/RW III Kelurahan Sondakan, Laweyan, Kamis (23/9).

Bahkan jumlah pesanan yang datang sering melebihi kemampuan produksi, sehingga dirinya harus menambah jam kerja dan tenaga pembantu. “Sekali kirim bisa 10-20 sangkar,” tambahnya. Harga sangkar bervariasi, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan motif batik. Harga mulai dari Rp350.000-Rp450.000/sangkar.

Rata-rata setiap pekan dengan dibantu tiga karyawan, ia hanya mampu memroduksi lima sangkar. Menurutnya, proses membatik pada media kayu lebih sulit daripada media lainnya. Ada tiga lapis batik yang harus dituangkan dan setiap satu lapisan membutuhkan waktu sekitar sehari, tergantung cuaca. “Kalau bisa kering cepat bisa sehari, kalau hujan berarti bisa lebih lama,” katanya.

Pria berusia 37 tahun ini mulai menekuni pembuatan sangkar burung sejak masih lajang, belasan tahun lalu. Namun ide untuk menghiasi sangkar dengan batik, baru dimulai sekitar awal tahun 2000. “Sempat sulit pemasaran, dan berhenti. Tapi adanya pengakuan dunia soal batik, sangkar batik kembali dicari,” katanya.

Sistem promosinya sederhana yakni dari mulut ke mulut dan akhirnya mulai dikenal hingga pulau seberang. “Saat ada lomba kicau burung, saya sering datang dan menawarkan sangkar, atau ikut pameran. Dari situ mulai dikenal sangkar batik,” terangnya.

Motif batik yang sering dipesan yaitu kontemporer bertema fauna seperti ikan koi, burung phoenix dan naga. Namun banyak pula yang memesan motif tradisional atau tokoh pewayangan.

m86

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…