Jumat, 24 September 2010 14:57 WIB News,Kesehatan Share :

Pasien kanker jangan takut kemoterapi

Jakarta--Pasien kanker masih ada yang merasa takut untuk melakukan pengobatan kemoterapi dengan alasan tidak ingin merasakan efek sampingnya. Tapi sebenarnya, tidak ada alasan bagi pasien untuk takut melakukan kemoterapi.

Kemoterapi merupakan sebuah cara pengobatan kanker yang sudah melewati berbagai penelitian klinis serta sudah melewati fase I, II dan III yang teruji efektifitasnya.

“Jadi itu adalah pengobatan yang diakui oleh badan kesehatan dunia (WHO) untuk pengobatan kanker dan semua negara juga memakai kemoterapi,” ujar Dr Ronald A. Hukom, MHSc, SpPD KHOM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Kanker dan Kelainan Darah dari RS Kanker Dharmais saat dihubungi detikHealth, Jumat (24/9).

Menurut Dr Ronald, seharusnya tidak ada ketakutan bagi pasien kanker untuk melakukan kemoterapi, karena efek samping yang dirasakan dari pengobatan tersebut lebih kecil daripada manfaat yang didapatkan.

“Efek samping yang paling banyak dirasakan biasanya mual dan muntah. Tapi asalkan muntahan serta cairan tubuh lainnya seperti saat pasien buang air kecil maupun besar ditampung dan dibuang dengan benar, maka pengobatan ini juga tidak membawa dampak bagi orang lain,” jelas Dr Ronald lebih lanjut.

Tapi Dr Ronald mengakui memang ada keluarga atau pasien kanker yang khawatir efek pengobatan kemoterapi yang terkena keluarga atau orang terdekat pasien.

“Memang benar kalau ada kekhawatiran bila bayi yang masih muda bisa kena kanker darah di kemudian hari kalau dekat-dekat pasien habis kemoterapi. Tapi asalkan si pasien tidak muntah sembarangan dan mengenai si bayi, maka kemungkinan efek samping pada bayi ini akan sangat kecil dan kejadian tersebut juga jarang terjadi,” sambung Dr Ronald yang juga berpraktik di RS Pondok Indah, Jakarta.

Dr Ronald menuturkan, intinya pengobatan kemoterapi menyebar ke seluruh tubuh, jadi akan diserap oleh setiap bagian tubuhnya. Dosis yang diberikan pada pasien juga tidak besar. Dengan dosis yang rendah itu maka tidak akan berakibat fatal bagi si pasien sendiri apalagi ke orang lain.

Selain itu, jika organ hati dan ginjal pasien masih berfungsi dengan baik, maka cairan yang dikeluarkan dari tubuh adalah sisa-sisa metabolisme tubuh yang sebenarnya sudah tidak aktif lagi.

“Kalau untuk si pasien sendiri tidak berbahaya, apalagi untuk orang-orang yang ada di sekitarnya. Tapi ya itu, asalkan si pasien tidak muntah dan buang air sembangan. Cairan yang keluar dari tubuhnya harus ditampung dan dibuang dengan benar,” tegas Dr Ronald.

Dr Ronald juga menambahkan bahwa sebenarnya pasien yang menjalani kemoterapi tetap bisa bersentuhan, memeluk dan memegang keluarga atau orang lain yang ada di dekatnya.

Tapi tentunya ada syarat, yaitu asalkan kondisi tubuhnya sudah kembali membaik, yang ditandai dengan tidak mual muntah lagi. Dengan kata lain, jumlah bahan kimia kemoterapi di dalam tubuh sudah tidak banyak atau sudah berkurang.

“Kalau kondisi tubuh si pasien sudah kembali sehat, tidak mual dan muntah lagi, maka si pasien boleh-boleh saja memeluk, mencium bahkan berhubungan badan dengan pasangannya,” jelas Dr Ronald.

Jadi tegas Dr Ronald, tidak ada alasan bagi pasien kanker untuk menjalani pengobatan kemoterapi. Setiap pengobatan tentunya ada efek samping, tapi hal tersebut tentu lebih kecil risikonya ketimbang manfaat yang diperoleh.

Dan untuk efek samping bagi orang-orang disekitar, bisa dihindari dengan menampung dan membuang setiap cairan tubuh yang keluar dari tubuh si pasien dengan benar.

Sementara dr Fielda Djuita, Sp.Rad (K) Onk Rad, Spesialis Onkologi Radiasi RS Kanker Dharmais meminta agar pendapatnya soal hubungan pasien kanker dan keluarganya yang sebelumnya ditulis detikHealth untuk diabaikan karena bisa menimbulkan polemik.

“Mohon kiranya dapat diabaikan oleh karena hal tersebut di luar kewenangan profesi saya untuk menjelaskannya dan tidak menjadi bahan polemik di kalangan profesi lain maupun masyarakat. Kompetensi saya adalah bidang Onkologi Radiasi/Radioterapi,” kata dr Fielda dalam rilisnya.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
Juara Karakter Indonesia, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…