Jumat, 24 September 2010 21:31 WIB Solo Share :

Obat dalam negeri mahal, Kemenkes jajaki obat impor

Solo (Espos)--Harga obat di Indonesia lebih mahal dari negara lain, misal India. Bahkan harga obat di India sepertiga hingga seperempat dari harga obat di Indonesia. hal ini karena sejumlah faktor, seperti ketergantungan teknologi luar, bahan obat yang masih mengimpor dan sistem distribusi.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan RI, Dr Supriyantoro SpP MARS, usai meresmikan gedung rawat inap kelas III RS Ortopedi Prof Dr Soeharso, Jumat (24/9).

Sejumlah langkah diambil agar harga obat lebih murah, di antaranya dengan mengimpor obat dari negara lain, seperti India maupun China. Dalam mendatangkan obat tersebut pihaknya akan tetap mengutamakan kualitas.

“Sedang kami jajaki itu,” katanya. Ia berharap dengan mendatangkan obat dari luar negeri, maka akan semakin banyak kompetitor pengusaha farmasi dalam negeri. “Saya sudah bicara dengan pengusaha farmasi, dan masih banyak yang
memiliki rasa nasionalisme tinggi,” katanya.

Kondisi ini, kata Surpiyantoro, akan menimbulkan persaingan harga dan pengusaha akan menurunkan harga dengan mengurangi keuntungan maupun memangkas biaya-biaya lainnya. Ia mengakui ada pengusaha farmasi yang mengambil keuntungan besar dalam perdagangan obat. “Bahwa kadang-kadang ada yang begitu, mungkin, namanya orang jualan. Tapi itu tidak semua,” tambahnya.

Langkah lainnya yakni pihaknya belajar kepada India mengenai pelayanan obat-obatan yang murah dan berkualitas. “Apalagi nanti kita kaitkan dengan keinginan pemerintah untuk universal coverage, bagaimana supaya masyarakat Indonesia semua mampu menikmati pelayanan kesehatan yang optimal,” katanya. Ia menambahkan, obat tersebut yakni obat generik dan obat paten.

“Praktis sama kedua obat itu, Memang obat paten membawa nama maka ada beban pajak. Yang paling berbeda adalah obat original, mahal karena perlu biaya penelitian,” katanya.

Langkah lainnya untuk meminimalkan harga obat yaitu dengan memutus mata rantai penyebab mahalnya obat tersebut dengan bantuan dan dukungan semua pihak. Maka, tambahnya, pentingnya belajar ke India yaitu dapat mempelajari bagaimana proses pengolahan bahan baku serta mendapat dukungan kebijakan dari pemerintah.

“Pada dasarnya pemerintah ingin oba kita bisa murah. Era pemerintahan lalu, Bu Siti Fadillah mampu menganalisa dan obat generik bisa turun,” paparnya.


m86

lowongan pekerjaan
BMT ALFA DINAR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…