Jumat, 24 September 2010 23:46 WIB Solo Share :

Kontraktor
Lelang Terminal Tirtonadi langgar prosedur

Solo (Espos)–Kontraktor yang mengajukan penawaran terendah dalam lelang pembangunan Terminal Tirtonadi yakni PT Hutama Karya akan melayangkan surat pengaduan resmi kepada sejumlah pejabat terkait menyusul indikasi proses lelang yang tidak berjalan secara prosedural.

Penilaian lelang yang tidak berjalan secara prosedural tersebut tidak hanya diungkap oleh PT Hutama Karya yang semula diperkirakan sejumlah peserta lelang sebagai pemenang namun juga oleh rekanan lainnya, yakni PT Karya Bisa. Para kontraktor ini menilai lelang pembangunan terminal tidak prosedural lantaran ada dua tahapan yang dihilangkan yakni pengumuman penghitungan aritmatika dan kedua pengumuman lelang.

Kepala Cabang (Kacab) PT Hutama Karya Semarang, Widi Suharyanto mengaku hingga saat ini belum menerima pengumuman dari Dinas Perhubungan (Dishub) mengenai pemenang lelang. “Sesudah proses lelang berjalan, saya meminta salah satu staf mengecek di Dishub mengenai keputusan pemenang. Pengecekan itu sekitar 8 September,” jelasnya ketika dihubungi wartawan, Jumat (24/9).

Saat pengecekan, Widi menjelaskan, belum ada pengumuman mengenai pemenang lelang di Dishub. Selanjutnya, ketika karyawannya bertanya mengenai waktu pengumuman, seorang petugas Dishub memberitahukan bahwa pengumuman akan disampaikan melalui faks.

Sesudah menerima penjelasan dari petugas Dishub, Widi menambahkan, hingga sekarang pihaknya belum menerima pengumuman apapun. “Saya baru tahu pemenang lelang sudah diumumkan itu kemarin (23 September-red) melalui surat kabar. Staf saya langsung mengecek di Dishub, ternyata memang ada pengumuman yang ditempel,” ujarnya.

Widi mengaku, sangat kecewa dengan proses lelang pembangunan Terminal Tirtonadi yang digelar Dishub. Pihaknya menilai proses tersebut tidak transparan dan tidak prosedural. “Pengumuman pemenang itu sangat penting bagi kami karena menyangkut masa sanggah. Sedang kami tahu pengumuman itu baru kemarin sehingga masa sanggah sudah habis,” tandasnya.

Awal pekan depan, Widi menerangkan, akan mengirim surat pengaduan resmi kepada pejabat pembuat komitmen (PPK), Dinas Perhubungan (Dishub) maupun DPRD megenai lelang terminal. Melalui surat pengaduan itu dirinya berharap masalah lelang bisa segera jelas.

Direktur PT Karya Bisa, Joko Tri Warno yang merupakan penawar terendah kedua sesudah Hutama Karya menuturkan ada dua prosedur yang dihilangkan dalam proses lelang pembangunan Terminal Tirtonadi. Pertama, pengumuman penghitungan aritmatika dan kedua pengumuman pemenang lelang.

“Sejak awal proses lelang, saya dan rekan-rekan sudah mengira yang menang PT Hutama Karya karena harga yang diajukan paling rendah. Tak hanya itu, dari sisi administrasi dan kapabilitas mereka juga memenuhi syarat. Kalau sampai yang menang PT Karsa Bayu memang menjadi pertanyaan bagi kami. Apalagi pengumuman penghitungan aritmatika dan pemenang lelang juga tak pernah disampaikan. Jadi sebenarnya ada apa,” ujar dia.

Dimintai konfirmasi, Kepala Dishub, Yosca Herman Soedrajat meminta pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil lelang langsung datang menjumpai panitia di kantor. Sehingga, pengaduan tidak disampaikan kepada pihak-pihak lain.
Herman menambahkan, lelang pembangunan Terminal Tirtonadi sudah sesuai prosedur.

“Kalau memang ada keberatan, kenapa tidak disampaikan kontraktor dalam masa sanggah? Kenapa baru sekarang,” ujarnya. Mengenai surat pengaduan dari PT Hutama Karya, Herman mengaku belum mendengar dan belum melakukan pengecekan.

aps

lowongan pekerjaan
GURU MADRASAH, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…