Jumat, 24 September 2010 04:06 WIB Issue Share :

Kisah cinta yang berujung tragedi

Solo (Espos)–Lika-liku kisah cinta adalah hal yang selalu menarik untuk diangkat ke dalam sebuah seni pertunjukan.

Hal itulah yang coba diangkat oleh sutradara Agus Krisbiantoro dalam pergelaran Ketoprak Balekambang berjudul Lukitosari Edan yang dipentaskan di Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo, Rabu (22/9) malam.

Lakon Lukitosari Edan menceritakan tentang kisah cinta tokoh Lukitosari dengan seorang pemuda bernama Kertopati ketika sama-sama belajar di Padepokan Gunung Sumbing.
Mereka berdua kemudian diusir dari padepokan oleh Sang Guru karena di padepokan tersebut ada larangan bagi sesama murid untuk menjalin cinta.

Setelah diusir, Lukitosari dan Kertopati melakukan perjalanan pengembaraan. Di tengah perjalanan mereka berdua melihat ada dua kelompok yang sedang berseteru.

Berbekal ilmu yang diperoleh ketika belajar di padepokan, Lukitosari dan Kertopati akhirnya dapat menyelesaikan permasalahan kedua kelompok tersebut dengan cara damai.
Berita keberhasilan Lukitosari dan Kertopati itu akhirnya sampai juga ke telinga Adipati Surya Negara, penguasa Kadipaten Banjarnegara. Lukitosari dan Kertopati kemudian diangkat menjadi abdi dalem.

Adipati Surya Negara ternyata terpikat oleh kecantikan Lukitosari. Surya Negara kemudian menjadikan Lukitosari sebagai permaisuri dan mengusir istrinya yang bernama Suryaningsih karena sudah lebih dari sepuluh tahun menikah tapi belum juga dikaruniai seorang anak. Adipati Surya Negara tak mengetahui bahwa ternyata saat itu Suryaningsih sedang mengandung.

Beberapa bulan kemudian Lukitosari hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Surya Kusuma. Sementara itu, Suryaningsih juga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Joko Sungkono.

Pada bagian akhir diceritakan bahwa Surya Kusuma mati dalam pertarungan melawan Joko Sungkono. Kertopati juga mati di tangan Adipati Surya Negara. Mengetahui kedua orang yang sangat disayanginya meninggal, Lukitosari sangat terpukul dan menjadi gila.

Pertunjukan ketoprak malam itu dikemas sangat apik oleh para pemain Ketoprak Balekambang. Mereka terlihat sangat menjiwai peran yang dibawakan . Sesekali mereka juga menyisipkan humor-homor yang cukup menggelitik hingga membuat para penonton tertawa terbahak-bahak.

“Pentas ketoprak selalu menarik untuk disaksikan karena beberapa unsur kesenian melebur jadi satu,” tutur salah satu penonton, Suryono, ketika ditemui Espos di sela-sela acara.

Ia mengaku sudah menggemari kesenian ketoprak sejak kecil. Kemeriahan malam itu berakhir pukul 23.30 WIB. Para penonton terlihat sangat puas menyaksikan aksi seniman kebanggaan Kota Solo itu.

Imam Abdul Rofiq

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…