Jumat, 24 September 2010 02:38 WIB Solo Share :

Dikabarkan meninggal, kembali setelah 47 tahun

Solo (Espos)–Kisah mengharukan layaknya cerita sinetron menghampiri sebuah keluarga di Kampung Sontosuman, Baluwarti, Solo. Setelah 47 tahun lamanya, akhirnya Suyatmi, 62, dipertemukan kembali dengan keluarganya yang ditinggalkannya selepas lulus SD.

Supriyadi, 55, adik Suyatmi, mengaku tidak menyangka akan dipertemukan kembali dengan kakak kandungnya tersebut. Apa yang bisa diingat dari Supriyadi dari sosok Suyatmi mengingat sejak berpisah dengan kakaknya itu, usianya baru menginjak tujuh tahun. Namun, begitu mendengar kabar bahwa kakaknya tersebut masih hidup, pria yang sehari-hari bertugas membersihkan Masjid Al-Makmur, Baluwarti ini penasaran bukan kepalang.

“Ini adalah keajaiban dari Allah. Setelah puluhan tahun berpisah, akhirnya saya bisa bertemu dengan kakak kandung saya,” ujar Supriyadi saat ditemui Espos di kediamannya, Kamis (23/9).

Dengan sedikit terbata-bata, Suyatmi menuturkan awal mulanya berpisah dengan keluarganya pada tahun 1963 silam. Suyatmi yang masih berusia sekitar 13 tahun saat itu berprofesi sebagai salah satu batur atau pembantu rumah tangga di salah satu keluarga Keraton. Ketidaksukaan pada kultur kehidupan Keraton yang sidikit feodal melatarbelakangi kepergiannya ke Kota Jakarta.

“Saya merasa terkukung hidup di dalam tradisi Keraton. Saya merasa repot jika harus berjalan merangkak ketika hendak menyajikan minumkan,” papar Suyatmi.

Selama di Jakarta, Suyatmi bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga. Selama di tanah rantauan, bukan berarti Suyatmi tidak memiki keinginan pulang. Keadaan ekonomilah yang berkali-kali menggagalkan hasratnya untuk pulang. Tahun 1970, Suyatmi menikah dengan Babai. Bersama suaminya, Suyatmi menetap di Kampung Masjid, Bogor. Pasangan suami istri ini dikarunia lima orang anak.

Namun, sejak tahun 1986, Suyatmi harus menghidupi keluarganya seorang diri. Babai meninggal dunia setelah mengalami sakit-sakitan. Di tengah kerasnya kehidupan Ibu Kota, Suyatmi harus berjuang mati-matian untuk merawat anak-anak hingga dewasa.

“Keinginan untuk pulang tetap ada. Tetapi, kerasnya kehidupan di kota besar membuat keinginan itu belum juga terwujud bahkan hampir saja hilang dari ingatan,” urai Suyatmi.

Keluarga di Solo sebenarnya juga tidak tinggal diam selepas kepergian Suyatmi. Almarhum ayah Suyatmi, Eko Roto, sudah berusaha menyusul Suyatmi ke Jakarta. Akan tetapi, Eko tidak pernah menemukan keberadaan Suyatmi. Alih-alih bertemu Suyatmi, kondisi kesehatan Eko justru menurun karena mengalami tekanan batin akibat memikirkan putrinya.

Menurut kabar yang beredar saat itu, Suyatmi dinyatakan meninggal dunia. “Mendengar berita meninggalnya kakak saya, kami hanya bisa pasrah menghadapi cobaan ini,” sahut adik Suyatmi lainnya, Supartinah, 60.

Bertemunya kembali Suyatmi dengan keluarganya bermula dari inisiatif menantunya dari anak bungsunya, Indri yang berasal dari Delanggu Klaten. Indri dan suaminya, Nuansa, bermaksud mempertemukan kembali Suyatmi dengan keluarganya di Solo. Sebelum Lebaran lalu, keduanya mencari tahu keberadaan keluarga di Solo.

“Keduanya sedikit kerepotan menemukan kami karena dulu kampung itu bukan bernama Sontosuman melainkan Gedokan Jaran sebagaimana yang diingat kakak saya,” papar Supartinah.

mkd

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…