Jumat, 24 September 2010 22:06 WIB Solo Share :

30% Pedagang tak aktif, paguyuban sering nombok

Karangasem (Espos)--Paguyuban Negeri Malam Ngarsapura mengaku sering nombok untuk menutup belanja operasional senilai Rp 1,5 juta di setiap pekannya.

Hal itu dikarenakan hanya 70% atau sekitar 160 orang pedagang yang aktif di pasar malam sehingga pendapatan yang terkumpul selalu minim.

Kondisi tersebut disampaikan lima orang perwakilan pengurus Paguyuban Negeri Malam Ngarsapura dalam pertemuan dengan Espos, Jumat (24/9). Mereka mengatakan, banyaknya pedagang yang tidak membuka dhasaran serta tidak mau membayar iuran membuat tersendatnya proses pembayaran belanja operasional, yakni belanja untuk membayar jasa tenaga bongkar pasang tenda serta tenaga kebersihan.

Bendahara paguyuban, Sujanti mengungkapkan kesepakatan awal iuran pedagang senilai Rp 6.250/orang/pekan.

“Memang ada yang memberi lebih untuk iuran. Hal itu semata-mata untuk membantu paguyuban menutup pembayaran jasa bongkar pasang tenda senilai Rp 1.475.000/pekan. Selain tenda, kami juga punya kewajiban membayar tenaga kebersihan senilai Rp 25.000/pekan,” jelasnya. Total pengeluaran setiap pekan senilai Rp 1,5 juta.

Menjadi persoalan, imbuh Janti, tidak semua pedagang di 57 tenda aktif berjualan. Sebaliknya, rata-rata hanya 70% pedagang yang selalu buka sehingga uang iuran yang terkumpul tidak bisa maksimal. Akibatnya, iuran tersebut tidak bisa menutup belanja operasional.

Memahami kesulitan pengurus paguyuban, Janti menambahkan beberapa pedagang rela memberi iuran tambahan sukarela. Sehingga kepada pengurus yang mereka berikan bukan Rp 26.000/pekan melainkan lebih hingga mencapai Rp 50.000/pekan.

Terkait masalah tenda, ketua paguyuban, Mayor Haristanto mengatakan nilai tarikan pembelian tenda baru merupakan kesepakatan pedagang. Walau awalnya memang ada sponsor namun semua pedagang sepakat menolak lantaran mereka menilai tenda sponsor tidak mencerminkan budaya Solo.

“Iuran tenda memang Rp 400.000 dan dibebankan untuk empat orang. Jadi per orangnya hanya Rp 100.000. Apabila pedagang masih keberatan, kami memperbolehkan pembayaran dengan sistem mencicil yaitu setiap pekan selama dua bulan,” jelas Mayor.

Keputusan membeli tenda sendiri, ungkap Mayor juga merupakan kesepakatan pedagang yang tidak ingin membebani Pemkot. Pasalnya, selama satu setengah tahun ini Pemkot telah memberi banyak fasilitas kepada pedagang di antaranya gratis tempat dhasaran, tenda, meja, air serta listrik.

Pengurus paguban yang mengurusi even budaya di Kawasan Ngarsapura, Heru Prasetyo mengatakan tidak ada pungutan apapun kepada warga yang ingin menggelar pertunjukan. “Salah kalau ada yang mengatakan ada tarikan kepada warga yang ingin menggelar pertunjukan. Sebab yang mengurusi perizinan pertunjukan itu Dinas Pariwisata dan gratis bukan kami selaku pengurus peguyuban,” ujarnya.

Mengenai munculnya keluhan tarikan pertunjukan senilai Rp 2
juta, Heru menunjuk satu contoh even yang sudah terlaksana. “Memang dulu ada warga yang ingin menggelar pertunjukan kemudian mengeluarkan uang senilai Rp 2 juta.

Uang itu bukan untuk kami tapi sewa sound system dan berbagai peralatan lain termasuk sewa pelaku seninya. Jadi uang bukan untuk kami,” jelasnya. Heru menjelasan, untuk sarana pertunjukan sebenarnya warga bisa menyiapkan sendiri.

aps

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…