Kamis, 23 September 2010 15:06 WIB Sragen Share :

Tol Solo-Mantingan, warga ngotot minta harga tinggi

Sragen–Pemilik lahan proyek tol Solo-Mantingan di Ngrampal, Sragen, ngotot meminta harga tinggi untuk pelepasan tanah mereka. Warga bahkan tak segan mematok harga tiga kali lipat harga pasaran.

Kondisi tersebut membuat pembebasan lahan jalan tol molor. Semestinya pembebasan lahan jalan tol Solo-Mantingan sudah selesai tahun 2009. Namun sampai sekarang lahan yang sudah dibebaskan baru 51,51 hektare atau sekitar 23,1% dari total luas jalan tol sepanjang 30 kilometer (Km).

Salah seorang pemilik lahan di Desa Kebonromo, Ngrampal, Sragen, Suparjo, mengungkapkan warga sepakat mempertahankan harga tanah dengan berbagai pertimbangan. Di antaranya, menyangkut tingkat kesuburan tanah, kemudahan pemasaran hasil pertanian dan kedekatan dengan jalan raya provinsi.

“Sawah saya 7.000 m2, kena tol 2.300 m2. Dan itu kena di bagian tengah, jadi bentuk sawah saya jadi tidak karuan,” ujarnya ditemui wartawan di sela-sela musyawarah pembebasan lahan di Balaidesa Kebonromo, Ngrampal, Kamis (23/9).

Suparjo menyebut berdasarkan kesepakatan 46 pemilik lahan jenis persawahan, harga tanah dipatok Rp 500.000-Rp 750.000/meter persegi (m2).

Sementara salah satu pemilik pekarangan, Sudarno, mengatakan akan melepas tanah dengan harga Rp 1,5 juta/m2 atau tiga kali lipat harga pasaran sekitar Rp 500.000/m2. “Soal bangunan, saya rasa sudah ada hitungannya. Ini saya bicara lahannya. Kami sepakat dihargai tiga kali harga pasaran,” serunya.

Data Panitia Pembebasan Tanah (PPT) jalan tol Solo-Mantingan, anggaran Rp 94,974 miliar digelontorkan untuk pembebasan tanah selama 2008-2010. Khusus tahun 2010, panitia mengantongi Rp 33 miliar. Pembebasan tanah berjalan sejak akhir Mei 2010 dan ditargetkan rampung tahun 2011 mendatang.

Anggota PPT jalan tol Solo-Mantingan, Budhiyanto, didampingi PPK Pengadaan Tanah jalan tol, Bambang Budi Prasetyo, mengaku kesulitan mencari titik temu antara keinginan warga dan ketersediaan anggaran. Di lapangan, jelas Bambang, masyarakat seriong meminta harga jauh di atas kemampuan anggaran dan membuat musyawarah harga pelepasan lahan berjalan lama dan berlarut-larut.

“Soal penentuan harga, tidak selesai dalam sekali musyawarah ya disusul musyawarah berikutnya. Kami tak membatasi, sepanjang masyarakat sepakat akan diakomodasi, kalau tidak pun kan proses tetap harus berjalan,” tegasnya.

tsa

lowongan pekerjaan
Toko Cat Warna Abadi (WAWAWA), informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…