Kamis, 23 September 2010 22:19 WIB Solo Share :

Tiga kawasan akan dijadikan taman kota

Solo (Espos)–Sebanyak tiga kawasan yakni Jl Mongisidi, Jl Ronggowarsito serta Komplang akan dijadikan taman kota. Oleh karenanya tim gabungan Pemerintah Kota (Pemkot) kini tengah melakukan pendataan pedagang kaki lima (PKL) yang membuka dhasaran di tempat itu.

Berdasar informasi yang dihimpun, pendataan PKL sudah dimulai sejak Rabu (22/9). Yang melakukan pendataan antara lain petugas dari Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) serta Satpol PP. Proses pendataan PKL sendiri diagendakan berlangsung selama empat hari atau hingga akhir pekan nanti. Dijumpai di sela-sela agenda pendataan, Kasi PKL DPP, Chairul Anwar menuturkan saat ini baru dua kawasan yang telah didata. “Kemarin (Rabu-red) kami sudah melakukan pendataan di Komplang. Hari ini pendataan kami lanjutkan di Jl Ronggowarsito,” jelasnya, Kamis (23/9).

Tujuan pendataan PKL, sambung Chairul untuk mengetahui jumlah sesungguhnya PKL yang membuka dhasaran di tiga kawasan yakni Jl Mongisidi, Jl Ronggowarsito serta Komplang. “Pendataan di tiga kawasan mulai Rabu hingga akhir pekan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak PKL yang aktif beroperasi. Sebab semua PKL nantinya akan kami jadikan sasaran sosialisasi mengenai pembangunan taman kota. Selanjutnya apabila di tiga kawasan itu dijadikan taman kota, mereka (PKL-red) akan dipindah ke sejumlah pasar tradisional seperti kebijakan-kebijakan sebelumnya,” jelas dia.

Di kesempatan sama, seorang PKL, Santo mengaku tidak mendapat imbauan apapun dari tim gabungan yang melakukan pendataan. Menurut dia, yang dilakukan tim gabungan hanyalah mendata nama-nama PKL yang membuka dhasaran di sepanjang Jl Ronggowarsito serta alamat rumah. Data yang sudah terkumpul lengkap selanjutnya akan diserahkan kepada Walikota.

“Mengenai rencana pembangunan taman kota, terus terang saya tidak tahu. Karena tim gabungan sama sekali tidak memberi informasi. Seandainya tadi mereka memberi tahu, tentu kami bisa langsung menyatakan keberatan,” ujarnya.

Santo yang mengaku pernah berjualan di dekat kawasan Ngarsapura menjelaskan, pernah mengalami penertiban sebelum ini. “Dulu saya adalah PKL di dekat Kawasan Ngarsapura yang kemudian ditertibkan ke Pasar Kadipolo. Tapi karena yang saya jual mebel, saya tidak mau berjualan di pasar karena jelas tidak akan laku,” ujarnya.

Sebelum menyewa kios di Jl Ronggowarsito (tempat dhasaran saat ini-red), Santo menuturkan pernah meminta izin Pemkot menggunakan salah satu selter Jurug karena lokasinya relatif strategis. Namun demikian usaha tersebut tidak membuahkan hasil, malah sebaliknya Santo diping-pong oleh sejumlah instansi.

“Apabila Pemkot ingin memindah PKL ke dalam pasar tradisional, kami minta pasar dihidupkan lebih dulu. Jangan kami asal dipindahkan tapi tempat tujuannya tidak strategis karena dagangan kami pasti mati. Coba lihat nasib PKL yang direlokasi di pasar tradisional khususnya di lantai dua, paling lama hanya satu bulan bertahan. Selanjutnya mereka akan pindah ke tempat lagi karena modal terlanjur habis,” ujarnya.

aps

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…