Kamis, 23 September 2010 22:54 WIB Sukoharjo Share :

Petani melon waspadai jamur bercak

Sukoharjo (Espos)–Masih adanya intensitas hujan di bulan ini membuat petani melon mengubah pola pengobatan terhadap tanamannya. Hal itu dilakukan guna mencegah serangan jamur.

Salah satu petani melon saat ditemui Espos, Kamis (23/9) di Pondok, Baki, Sriyono, mengatakan cuaca merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan tanaman melon. Dia mengaku memberi perlakuan khusus untuk sekitar lahan sawah yang ditanaminya melon lantaran kelembaban tanaman tinggi.

“Soal hujan yang belum juga berhenti dapat kami tanggulangi dengan melancarkan saluran air. Tapi, fungi atau jamur sangat rawan menyerang saat cuaca seperti ini,” katanya.

Sriyono yang mengaku telah memiliki pengalaman menanam melon, mengatakan pemeliharaan tanaman melon cenderung membutuhkan ketekunan lebih dibanding menanam padi. Selain melibatkan banyak orang dalam mengurus sekitar 5.000 meter persegi lahan melon, dia meningkatkan jumlah obat untuk mengatisipasi jamur.

“Yang paling kami antisipasi saat ini adalah jamur bercak. Kami sudah menyiapkan obat, tapi sepertinya akan terkendala mencari tenaga. Banyak buruh tani yang sibuk bergotong royong di musim hajatan seperti ini,” tambahnya.

Dia menjelaskan penanaman melon di area itu merupakan salah satu variasi varietas. Sebelumnya, lahan yang digarapnya itu mengalami kegagalan panen padi lantaran hama wereng. Selain pengobatan, lanjutnya, faktor lingkungan juga perlu diperhatikan untuk mencegah jamur.

Dia mengatakan interfal penanaman serta pemanenan terhadap tanaman melon di lahan satu dan lainnya lebih baik dilakukan secara serentak. “Untungnya tanaman melon di atas lahan dua hektar lahan di sini tidak berselang lama satu sama lainnya. Jika tanaman bersandingan dan jeda umurnya lebih dari 25 hari saja sudah dapat dikatakan rawan terkena jamur,” urainya.

Senada, petani asal Bugel, Polokarto, Sisno, mengatakan pemberian obat dalam mencegah fungi dilakukannya dua kali sehari. Pola pencegahan seperti itu dilakukannya setiap hari terhadap tanaman melon yang ditanamamnya di atas lahan sewa di Pondok. “Pengobatan hanya bisa dilakukan dua hari sekali saat musim kemarau,” jelasnya.

m85

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…