Kamis, 23 September 2010 20:01 WIB Sragen Share :

Pemohon bantuan RTLH overload

Sragen–Pemohon bantuan dana rehab rumah tak layak huni (RTLH) di Bumi Sukowati overload alias melebihi kemampuan. Meski anggaran hanya tersedia untuk 118 unit, pengajuan melalui Dinas Sosial mencapai sebanyak 300 unit.

Kasi Pemberdayaan Ekonomi Sosial Masyarakat Dinas Sosial, Eddy Indaryatno, mengungkapkan bantuan rehab RTLH Rp 2,5 juta diajukan setiap tahun. Selama ini pemohon tidak dapat diakomodasi seluruhnya sehingga terjadi penumpukan.

“Pemohon banyak sekali. Yang kami terima sekitar 300 unit. Itu pengajuan tahun ini ditambah sisa tahun lalu yang belum dipenuhi karena keterbatasan anggaran,” jelas Indaryatno ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis (23/9).

Dia mengatakan tahun 2010 Dinas Sosial Sragen hanya menyalurkan bantuan untuk 118 unit RTLH. Bantuan itu berasal dari APBD Rp 145 juta dan dari Badan Amil Zakat (BAZ) Rp 150 juta. Sampai pertengahan September 2010, bantuan baru disalurkan ke 40 unit RTLH, 30 unit dari dana APBD dan 10 unit dari dana BAZ.

Indaryatno menyebut penyaluran bantuan tersisa akan dilakukan beberapa bulan ke depan ke masyarakat dengan pertimbangan skala prioritas. Menurutnya masih banyak RTLH di 20 kecamatan di Kabupaten Sragen yang belum mendapat bantuan.

Data tahun 2009, di Sragen terdapat 8.340 unit RTLH. Tahun 2010 pihaknya kembali melakukan update data dengan melibatkan pemerintah desa (Pemdes). “Tahun ini kami minta data lagi, kaitannya dengan database yang akan jadi dasar penyaluran bantuan. Akhir Oktober diharapkan data sudah masuk semua.”

Terpisah Kepala Desa Pendem, Sumberlawang, Saidi Rosit, menyebut masih banyak warga di desanya yang tinggal di RTLH. Banyaknya RTLH mencerminkan tingginya angka kemiskinan di desa setempat. “Menurut data di Desa Pendem ada sebanyak 542 KK (kepala keluarga) miskin, jadi wajar jika banyak RTLH,” katanya.

Saidi berharap ke depan Pemkab mengalokasikan dana lebih besar guna membantu warga miskin, terutama yang tinggal di RTLH. Saidi mengakui di masyarakat sudah ada kesadaran saling bantu antarwarga. Namun dia berpendapat swadaya warga saja tak cukup untuk membantu mengentaskan warga dari masalah tersebut.

tsa

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…