Kamis, 23 September 2010 18:00 WIB News Share :

DPRD Kota Salatiga berbalik tolak usulan tugu

Salatiga (Espos)–Dukungan anggota DPRD Kota Salatiga terkait rencana Walikota John Manuel Manoppo membangun tugu di tengah kota mulai berubah arah. Beberapa wakil rakyat yang awalnya mendukung kini berbalik menolak.

Seperti yang terjadi pada Ketua DPRD, Milhous Teddy Sulistyo, yang tiba-tiba menyatakan penolakannya kendati sempat mendukung kuat rencana Walikota yang ia usung. Alasannya, gerakan arus bawah di masyarakat yang menolak rencana Walikota itu semakin kuat. Hal ini dinilainya dapat mengancam kondusifitas Kota Salatiga yang kaya akan keberagaman baik suku, ras dan agama.

“Usulan Tugu Tamansari oleh Walikota sudah melebar dan menyeruak ke seluruh lapisan masyarakat yang berpotensi membuat suasana Salatiga tidak kondusif. Isunya sudah bukan lagi masalah tugu namun masalah agama,” paparnya kepada Espos, Kamis (23/9).

Politisi PDIP ini mengklaim sikapnya merupakan representasi sikap Fraksi PDIP di DPRD.
Ia juga akan merangkul semua fraksi dan  anggota Dewan untuk bersama-sama menolak usulan Walikota itu dengan membatalkan rencana anggaran pembangunan tugu yang nilainya mencapai Rp 2,2 miliar dalam APBD 2011 dari total Rp 3,2 miliar.

Teddy mengakui pada prinsipnya ia sepakat dengan usulan pembangunan tugu yang akan dijadikan identitas Kota Salatiga. Identitas kota ini yang menurutnya penting untuk bisa menumbuhkan rasa memiliki Kota Salatiga oleh warganya selain juga untu bisa memasarkan kota berhawa dingin itu kepada para investor dan wisatawan.

“Namun memang anggarannya harus dirasionalkan. Namun dengan adanya penolakan masyarakat, lebih baik anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan Mesjid Raya Salatiga, Pasar Rejosari dan Pasar Jetis yang belum rampung,” paparnya.

Sikap yang sama ditunjukkan Fraksi PKS. Anggota Fraksi PKS yang sekaligus Wakil Ketua DPRD, M Fathurrahman, mengungkapkan jika pembangunan tugu tersebut belum menjadi priorits pembangunan di Kota Salatiga. Banyak proyek pembangunan lain yang belum rampung dan membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk menyelesaikannya.

“Kami belum melihat urgensi dari keberadaan tugu tersebut,” papar Fathurrahman.

kha

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…