Rabu, 22 September 2010 13:14 WIB Ekonomi Share :

Usai lebaran kredit bank melempem

Jakarta–Setelah lebaran, penyaluran kredit perbankan mengalami sedikit penurunan. Pada pekan laporan kredit turun Rp 770 miliar menjadi Rp 1.631,25 triliun.

“Penurunan tersebut disebabkan turunnya kredit rupiah sebesar Rp 2,55 triliun, sedangkan kredit valas naik Rp 1,78 triliun,” kata Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah dalam keterangannya, Rabu (22/9).

Dengan demikian, menurutnya, selama tahun 2010 kredit tercatat naik senilai Rp 201,05 triliun atau setara 14,06%, dan jika dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama naik Rp 275,83 triliun (20,35%).

Secara tahunan (yoy), pertumbuhan kredit rupiah tercatat sebesar 21,06%, sedangkan kredit valas tumbuh lebih rendah (16,22%). “Turunnya kredit pada pekan laporan terkait dengan menurunnya aktivitas bisnis dan permintaan masyarakat pasca hari Raya Idul Fitri,” jelasnya.

Ia mengatakan, kredit rupiah hanya meningkat pada kelompok KCBA dan BPD masing-masing senilai Rp 1,28 triliun dan Rp 2 miliar. Sedangkan tiga kelompok bank yang lain (Swasta, Persero dan Campuran) mengalami penurunan, terbesar pada kelompok Bank Swasta senilai Rp 2,3 triliun.

Sementara itu, kredit valas meningkat pada empat kelompok bank dengan kenaikan yang cukup merata, tertinggi pada kelompok bank Persero senilai Rp 750 miliar. Sedangkan penyaluran kredit valas kelompok BPD tidak mengalami perubahan.

Suku bunga stabil

Ia menambahkan, selama pekan laporan, tidak terlihat adanya perubahan suku bunga yang signifikan pada hampir semua kelompok bank, baik untuk instrumen rupiah maupun valas.

Spread suku bunga rupiah terbesar masih terdapat pada kelompok bank kecil (7,96%), meskipun sedikit melebar (3 bps) dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

“Sedangkan spread terendah tetap pada kelompok bank besar dengan angka yang sedikit turun 5,14% menjadi 5,21%,” ungkapnya

Untuk suku bunga valas, spread tertinggi tetap pada kelompok bank kecil sebesar 8,16%, dan terendah pada kelompok bank dengan total aset antara Rp 5-15 triliun sebesar 3,32%.

dtc/tiw

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…