Rabu, 22 September 2010 18:18 WIB Pendidikan Share :

Menang penjaringan belum tentu jadi rektor

Penjaringan calon rektor UNS telah dilakukan Senin (20/9). Hasil rekapitulasi perolehan suara telah dihimpun Panitia Persiapan Pemilihan Calon Pimpinan Universitas (P3CPU) UNS. Lantas bagaimana analisa terhadap hasil penjaringan itu. Wartawan SOLOPOS, Eni Widiastuti akan melaporkannya.

Berbeda dengan pola pemilihan rektor di kampus lainnya, yang langsung melibatkan Senat, UNS mengadakan pola pemilihan rektor dengan melakukan proses penjaringan sebelum calon rektor dipilih oleh Senat.

Pada pemilihan calon rektor periode 2011-2015 ini misalnya, penjaringan telah dilakukan Senin (20/9) dengan melibatkan seluruh warga kampus, dosen, karyawan dan mahasiswa. Tak ayal, agenda ini layaknya pemilihan kepala daerah yang diikuti 10 calon rektor.

Mereka adalah Dr Djoko Santoso Th MPd dari FKIP, Prof Dr M Furqon Hidayatullah MPd dari FKIP, Prof Dr Andrik Purwasito DEA dari FISIP, Dr Ir Mamok Soeprapto R MEng dari Fakultas Teknik, Dr Asri Laksmi Riani MS dari Fakultas Ekonomi, Prof Drs Suranto MSc PhD dari FMIPA, Prof Dr Ravik Karsidi MS dari FKIP, Dr Peduk Rintayati MPd dari FKIP, Prof Dr Adi Sulistiyono SH MH dari Fakultas Hukum, dan Prof Dr Ir Sholahuddin MS dari Fakultas Pertanian.

Berdasarkan rekapitulasi perolehan suara, calon rektor yang kini menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS, Prof Dr M Furqon Hidayatullah MPd, memperoleh suara terbanyak dengan 8.109 suara atau 55,51% dari total suara sah sebanyak 14.608 suara. Suara itu terdiri dari 7.457 suara mahasiswa, 399 suara dosen dan 253 suara karyawan.

Jika dirunut lebih detail, suara Furqon dari mahasiswa unggul di delapan fakultas dan di pascasarjana. Sementara di Fakultas Hukum UNS, suara calon rektor lainnya, Adi Sulistiyono menempati peringkat pertama untuk dosen dan mahasiswa.

Calon rektor lainnya yang memperoleh suara terbanyak kedua adalah Ravik Karsidi yang kini menjabat sebagai Pembantu Rektor I UNS. Ia memperoleh  2.154 suara dengan rincian 1.560 suara mahasiswa, 381 suara dosen dan 213 suara karyawan. Suara Ravik dari kalangan dosen menang di FSSR, FISIP, FMIPA, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian dan Fakultas Ekonomi.

Peringkat suara ketiga diperoleh Adi dengan 2.000 suara. Terdiri dari 1.698 suara mahasiswa, 166 suara dosen dan 136 suara suara karyawan.

Mengomentari data tersebut, Presiden BEM UNS berpendapat tingginya suara yang diperoleh Furqon karena selama ini Furqon sering mengisi kegiatan mahasiswa sehingga lebih dikenal. “Demikian juga Pak Ravik, suara dari mahasiswa cukup tinggi karena cukup sering mengisi kegiatan mahasiswa,” terangnya.

Tidak ada jaminan

Meski perolehan suara calon rektor Prof Dr M Furqon Hidayatullah MPd paling banyak, yaitu 8.109 suara atau 55,51% dari total suara sah sebanyak 14.608, bukan berarti Furqon bisa dipastikan akan menjadi rektor UNS periode 2011-2015.

Hal ini karena penjaringan hanya dilaksanakan untuk mengetahui aspirasi warga kampus tentang siapa calon rektor yang dikehendaki. Ketika dihubungi Espos, Selasa (21/9), Rektor UNS, Prof Dr dr Syamsulhadi SpKJ (K) mengatakan penjaringan bukan untuk menentukan siapa rektor UNS. Tapi hasil penjaringan digunakan untuk menentukan siapa calon rektor yang akan melaju ke tahap selanjutnya.

“Menang penjaringan belum tentu jadi rektor. Hanya Senat yang mempunyai kewenangan untuk memilih calon rektor untuk diajukan ke Menteri Pendidikan Nasional. Jadi bisa saja, saat penjaringan suaranya banyak, tapi saat pemilihan di Senat suaranya sedikit. Atau bisa juga tetap tinggi suaranya saat pemilihan di Senat,” jelasnya.

Penjaringan, terang Syamsul, dimaksudkan untuk melihat aspirasi seluruh civitas akademika UNS. Aspirasi itu mungkin menjadi salah satu pertimbangan Senat untuk memilih calon rektor. “Bahasa mudahnya, penjaringan di UNS saat ini untuk mengeliminasi satu calon rektor,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penjaringan, calon rektor Dr Djoko Santoso TH MPd tereliminasi dari pencalonan karena memperoleh suara terendah, yaitu 73 suara.

Tidak adanya jaminan bahwa calon rektor dengan suara terbanyak akan menjadi rektor, pernah terjadi di Universitas Soedirman (Unsoed) Purwokerto.  Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed, Helmy Shoim P, menerangkan pada pemilihan Rektor Unsoed periode 2009-2013, sebelumnya dilakukan penjaringan terlebih dahulu. Tapi hanya melibatkan dosen Unsoed. Setelah penjaringan, terpilihlah tiga calon rektor dengan suara terbanyak dari delapan calon rektor yang mengikuti penjaringan. Tiga calon rektor itu kemudian maju ke pemilihan di tingkat Senat.

“Setelah diadakan pemilihan oleh Senat, ternyata calon rektor yang memperoleh suara terendah saat penjaringan, Prof Edy Yuwono PhD, justru memperoleh suara tertinggi pada pemilihan Senat. Lalu Senat mengajukan tiga nama itu ke Mendiknas dengan merekomendasikan calon rektor yang memperoleh suara terbanyak di Senat, Edy Yuwono, sebagai rektor Unsoed,” terangnya.

Entah mengapa, kata Helmy, keputusan pemerintah tentang siapa yang akhirnya dipilih sebagai rektor Unsoed baru keluar Mei 2010. Padahal pengajuan telah dilakukan sejak September 2009. Karena jabatan rektor sebelumnya berakhir Oktober 2009, akhirnya rektor sebelumnya diangkat sebagai pelaksana tugas rektor Unsoed sampai Mei 2010. “Jadi akhirnya periode kepemimpinan rektor terpilih antara 2010-2014,” ujarnya.

Karena penjaringan bukanlah satu-satunya penentu siapa rektor UNS, Syamsulhadi berharap semuanya menahan diri dan tidak emosional menerima hasil penjaringan. “Tahapannya masih panjang. Dari sembilan jadi lima, lima jadi tiga. Baru tiga calon diajukan ke Mendiknas,” terangnya.

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…