Rabu, 22 September 2010 22:49 WIB Solo Share :

DPP genjot PAD, kios dan los pasar mulai ditawarkan

Solo (Espos)–Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kota Solo mulai menggenjot perolehan pendapatan asli daerah (PAD) yang bersumber dari penjualan kios/los pasar dengan target sekitar Rp 5,8 miliar.

Hal itu menyusul turunnya dua surat keputusan (SK) Walikota yang menjadi dasar penawaran kios/los kepada masyarakat. Kepala DPP Kota Solo, Subagiyo mengemukakan mulai Rabu (22/9) kemarin, pihaknya menyosialisasikan penawaran dengan jumlah total 101 kios dan 265 los yang tersebar di enam pasar, yaitu Pasar Legi, Pasar Gading, Pasar Harjodaksino, Pasar Sidodadi (Kleco), Pasar Kembang dan Pasar Pucang Sawit.

SK Walikota No 511.2.05/12-I/1/2010 tentang pembentukan tim perhitungan anggaran pembangunan los/kios pasar dan SK Walikota No 511.2/44-F/1/2010 tentang penetapan dasar perhitungan anggaran pembangunan los/kios pasar menjadi dasar penawaran tersebut. “Hari ini kami sudah melakukan penawaran untuk kios dan los yang berada di sisi timur Pasar Legi dengan jumlah masing-masing 126 los dan 39 kios,” ujar Subagiyo ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (22/9).

Diungkapkan Subagiyo, sebelum dua SK tersebut turun, sebenarnya sudah ada sekitar 64 pedagang yang menawar. Namun lantaran belum memiliki dasar hukum yang kuat untuk melepas kios/los tersebut, akhirnya penawaran dihentikan sementara waktu. “Dan setelah dua SK Walikota itu turun, penawaran kami buka kembali,” terangnya.

Lebih lanjut Subagiyo menyebutkan jumlah kios/los untuk masing-masing pasar berbeda. Di Pasar Gading, pihaknya menawarkan tujuh kios dan 20 los. Di pasar Harjodaksino, ada enam kios. Sementara di Pasar Sidodadi, ditawarkan 20 los. Di Pasar Kembang, ada tujuh kios dan terakhir di Pasar Pucang Sawit ada 42 kios dan 99 los. Pihaknya mentargetkan penawaran untuk semua kios/los tersebut dapat selesai pada bulan Nopember mendatang.

“Melalui penjualan kios/los tersebut, PAD kami ditarget senilai Rp 5,835 miliar. Sehingga kami mentargetkan bulan Nopember nanti sudah bisa selesai,” imbuh dia.

Untuk penentuan harga jual kios/los, Pemerintah Kota (Pemkot) menetapkan nilai pembangunan atau nilai bangunan baik untuk kios maupun los senilai Rp 3.712.000/m2. Harga jual kios ditetapkan dengan memperhitungkan beberapa unsur, yaitu nilai bangunan, nilai jual obyek pajak (NJOP) tahun berjalan, nilai kelas dan luasan. “Sehingga harga kios dan los ini satu dengan yang lainnya bisa berbeda-beda. Pembeli memperoleh kios/los ini dengan status hak penempatan (SHP),” terangnya.

Sementara terkait sistem pembayaran, diterangkan Subagiyo, pihaknya membolehkan pembeli yang akan membayar tunai kios/los. Namun pihaknya juga tidak menutup bagi pembeli yang pembayarannya dilakukan bertahap. “Untuk yang membayar bertahap ini diizinkan sampai bulan Desember 2010 ini,” katanya.

Sementara pembeli dengan sistem kredit, juga diperbolehkan. Dalam hal ini, Subagiyo mengatakan pihaknya akan bekerja sama dengan perbankan. “Saat ini kami bekerja sama dengan Bank Mandiri. Pembeli yang mengajukan sistem kredit, diberi waktu hingga tiga tahun dengan bunga flat 1,5%/tahun. “Namun yang bisa dikredit sekitar 70% dari nilai transaksi,” pungkasnya.

sry

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…