Rabu, 22 September 2010 13:30 WIB Hukum Share :

Cekcok, istri dibunuh lalu digantung

Kediri–Perbuatan sadis menggegerkan Dusun Ketangi, Desa Bringin, Kecamatan Badas, Kabupaten Kedir. Eko Santoso, 27 tega membunuh istrinya sendiri, Rahayu Tri Wahyuni, 23. Sehabis dibunuh, Eko meniduri dan menggantung istrinya tersebut.

Eko diringkus tim Buru Sergap (Buser) Polres Kediri satu jam setelah berpura-pura menurunkan jenazah istrinya dari tiang gantungan.

Polisi tengah memeriksa pelaku secara intensif. Sementara jenazah korban kini berada di ruang jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Kediri untuk dilakukan visum.

Berdasarkan informasi yang didapat, Eko terlibat cekcok, Selasa malam (21/9) sekitar pukul 20.00-24.00 WIB. Persoalan rumah tangga itu dilatar belakangi rasa cemburu korban karena menuding pelaku berselingkuh.

“Setelah cekcok mulut panjang itu, Eko keluar rumah. Ia duduk di teras. Kemudian memanggil istrinya. Saat istrinya menghampiri, pelaku langsung mengikat leher istrinya dengan selendang dari belakang, hingga lemas,” terang Kasubbag Humas Polres Kediri Iptu Mansur, Rabu (22/9)

Melihat istrinya tidak berdaya, pelaku melucuti seluruh pakaian. Kemudian, pelaku meniduri istrinya dalam keadaan tanpa busana. Setelah puas, kemudian pelaku menggantung tubuh istrinya di kamar. “Eko menaikkan tubuh istrinya diketinggian lebih tiga meter dengan tangga. Kemudian mengikat lehernya dengan tali gendong yang disambung dengan selendang. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 01.00 WIB,” urai Mansur

Selanjutnya, sekitar pukul 05.00 WIB, Eko ke rumah kedua orang tuanya, Sumaji dan Mujiati yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Dengan tergopoh-gopoh mengaku shock melihat istrinya sudah dalam keadaan bergelantungan.

“Saya baru selesai sholat. Mendengar kabar itu langsung melompat, dan mendatangi rumahnya. Saya mengajak Dipa, 3, anaknya, dan suami saya membantu Eko menurunkan istrinya,” aku Mujiati.

Tetangga sekitar berdatangan ke lokasi. Sementara polisi yang mendapatkan laporan yang mendatangi rumah Eko. Polisi memasang garis polisi di sekitar rumah korban dan melakukan identifikasi.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menuai kejanggalan. Diantaranya, Eko sebagai saksi mata justru mendatangi rumah orang tuanya untuk meminta pertolongan, ketinggian gantungan juga mustahil dijangkau.

“Ini bukan kematian akibat gantung diri. Sebab, kakinya tidak membiru. Ini jelas meninggal terlebih dahulu. Selain itu, ada bekas luka cekikan di leher,” ungkap Sam, salah seorang petugas medis RSUD Pelem, Pare, Kabupaten Kediri.

Berawal dari kecurigaan itu, polisi langsung membekuk Eko. Polisi memeriksa pelaku secara intensif. Akhirnya, pelaku mengakui segala perbuatannya.

inilah/rif

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…