Rabu, 22 September 2010 18:01 WIB Boyolali Share :

BPTP dan Dispertanbunhut uji coba 20 galur jagung hibrida

Banyudono (Espos)–Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng dan Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Boyolali melakukan ujicoba 20 galur jagung hibrida di Desa Bangak, Banyudono, Boyolali.

Kepala Dispertanbunhut Boyolali Ir Juwaris mengatakan ujicoba itu dilakukan untuk memilih jenis jagung yang lebih tepat ditanam di Kecamatan Banyudono. “Jika nantinya salah satu galur itu lebih maksimal dan optimal akan dikembangkan di sejumlah kawasan di Boyolali,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (22/9).

Juwaris menambahkan 20 galur jenis baru itu berasal dari Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian yang berada di Maros Sulawesi Selatan. Menurut Juwaris, jagung hibrida yang diujicobakan di Bangak itu berumur pendek yakni sekitar 90 hari hingga 100 hari dari jagung jenis lain. Selain itu, jagung galur baru itu juga hemat pupuk hingga 50 persen.

Untuk lahan satu hektare (Ha), jelas Juwaris, hanya menggunakan pupuk urea 150 kilogram. Jumlah itu, sangat jauh dengan jagung jenis lain dengan luas lahan yang sama. “Jagung galur baru itu juga tahan terhadap hama penyakit. Padahal jika jagung lain penggunaan pupuk bisa mencapai 300 kilogram per hektare,” urai dia.

Meski demikian, tambah Juwaris, ujicoba penanaman jagung di Banyudono ini belum diberi nama paten. Juwaris mengatakan pemberian nama itu dilakukan setelah diujicobakan di Pusat Perlindungan Varietas di Kementerian Pertanian.

fid

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…