Rabu, 22 September 2010 16:35 WIB Karanganyar Share :

20 Hektare tanaman padi diserang wereng

Karanganyar (Espos) — Sekitar 20 hektare tanaman padi muda di Kecamatan Tasikmadu dan Karanganyar mulai diserang hama wereng cokelat menyusul berlangsungnya musim kemarau basah beberapa bulan terakhir.

Petani dan petugas pertanian diminta intensif memantau kondisi tanaman guna meminimalisasi dampak serangan. Pernyataan itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Karanganyar, Siti Maesyaroch, saat ditemui wartawan di kantornya Rabu (22/9).

“Saat ini ada 20 hektare padi muda terancam wereng di Tasikmadu dan Karanganyar. Pemicunya iklim basah,” ujarnya.

Dia menjelaskan kadar serangan wereng masih tergolong ringan di bawah lima ekor per rumpun. Namun yang menjadi kekhawatiran yakni rentang waktu serangan yang begitu cepat. Sehingga pihaknya telah menyiapkan pestisida untuk pemberantasan wereng.

Selain itu Posko penanggulangan hama Distanbunhut telah dioperasikan untuk merespons cepat serangan hama. Di semester akhir 2010 ini Distanbunhut telah dialokasikan dana penanggulangan hama dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) perubahan.

Kendati tak menyebutkan nominal dana namun menurut Siti anggaran itu akan digunakan untuk pengadaan obat kimia anti-hama. Bila anggaran masih kurang, Distanbunhut dapat meminta kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng).

Sedangkan untuk pencegahan serangan hama petani diminta menerapkan strategi tanam padi-padi-palawija jagung. Seperti yang telah diterapkan di lahan pertanian Kecamatan Colomadu. “Sebelumnya Colomadu merupakan wilayah paling parah terserang hama. Tapi sekarang belum ada laporan serangan hama sejak pakai sistem tanam selang-seling,” imbuhnya.

Lebih lanjut Siti memperkirakan musim kemarau basah masih akan berlangsung hingga Oktober. Bahkan tidak menutup kemungkinan langsung bersambung dengan musim penghujan mendatang.

kur

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…