Selasa, 21 September 2010 01:21 WIB News Share :

Pembunuh wartawan Sripo rekayasa korban seolah bunuh diri

PALEMBANG – Polisi mengungkap kasus kematian wartawan Sriwijaya Post (Sripo), Arsep Pajario (40). Setelah memeriksa saksi-saksi dan barang bukti, polisi menduga pembunuhnya adalah Stefi Andila Panjaitan (20), teman dekat korban.

Menurut Wakil Kepala Polres Palembang, Sumatera Selatan, Ajun Komisaris Besar Viktor Manopo, penyidik menemukan beberapa bukti yang mengarah kepada Stevi.

“Kami menemukan barang bukti milik korban seperti telepon genggam dan simcard yang sudah patah,” kata Viktor, Senin (20/9/2010) malam.

Saat diperiksa, Stevi mengakui perbuatannya. Dia menyatakan, pembunuhan itu dilakukan sendiri pada malam hari. Korban dihabisi dengan cara dicekik. “Kami masih mendalami motif pembunuhan tersebut,” kata Viktor.

Seperti diberitakan, Arsep Pajario ditemukan tewas di rumahnya, Jl S Suparman Kompleks Citra Dago Blok D No 9 Kelurahan Sukajaya, Sukarami Palembang, Jumat (17/9/2010) pukul 14.00 WIB. Mayat Arsep ditemukan dalam kondisi mengenaskan karena diperkirakan sudah tewas sejak tiga hari lalu.

Informasi awal menyebutkan, Arsep diduga dibunuh dan menjadi korban perampokan. Sejumlah barang berharga pria lajang itu —antara lain ponsel, uang dalam dompet dan laptop—  raib. 

Melihat kondisi tempat kejadian perkara (TKP), pelaku diperkirakan masuk ke dalam rumah tidak dengan cara merusak. Diduga pelaku adalah orang dekat atau kenalan korban.

Buntut kasus itu, Kepolisian Sektor Sukarame, Kota Palembang,  sampai Sabtu (18/9/2010) malam, memeriksa enam orang saksi. Keenam saksi tersebut adalah kerabat, teman dekat dan keponakan Arsep, termasuk Stefi.

Stefi Andila Panjaitan, warga PTPN 7 Betung Banyuasin, adalah mahasiswa semseter 3 Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi universitas swasta di Sumatera Utara.

Dia kenal Arsep lewat keponakan Arsep, Yudhistira (20), warga SPN Betung Banyuasin. Keduanya sempat menginap di rumah Arsep pada 20-23 Agustus

MerekayasaKepada polisi, Stefi  mengaku membuat berbagai rekayasa agar pembunuhan yang dilakukannya terhadap Arsep tidak diketahui petugas.

Rekayasa yang dibuat, di antaranya, meletakkan alat penyemprot nyamuk di dekat jasad korban Arsep. Tujuannya, qgar polisi mengira Arsep meninggal bunuh diri.

Selain itu Stefi juga merekayasa cerita bahwa ia bertemu Arsep terakhir kali pada Selasa (14/9) pagi. Padahal, setelah pulang ke rumah di Betung, ia kembali lagi ke rumah Arsep pada siang hari.

Ia diminta datang oleh Arsep setelah ketahuan mengambil uang Rp 300.000 dalam dompet.  Arsep minta kepada Stefi untuk mengembalikan uang yang diambil itu separuhnya saja.

“Saya sengaja buat rekayasa agar polisi tidak mencurigai saya,” ujar Stefi, yang dikenal sebagai bekas pecandu narkoba.

Stefi sempat mengalami kesurupan, Senin (20/9/2010) dini hari. Menurut  penyidik dari Unit Pidana Umum Polresta Palembang, Stefi mengoceh tidak menentu dan merasa bersalah. “Stefi sering berteriak ‘Arsep, Arsep, Arsep’,” ungkap  penyidik yang tak mau disebut namanya.

Informasi lain, Stefi mengaku dirinya menggunakan sabu-sabu sejak duduk di bangku SMA. Namun, setelah kuliah, dia tidak pernah lagi mengkonsumsi sabu-sabu.  Stefi mengaku sering mengkonsumsi sabu bersama beberapa temannya. Dalam satu bulan dia bisa menyabu dua hingga tiga kali.(Kompas.con)

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…