Senin, 20 September 2010 22:01 WIB Solo Share :

Seusai renovasi, jembatan Bratan-Belukan masih ditutup

Solo (Espos)–Jembatan yang menghubungkan Kampung Bratan dengan Kampung Belukan, Kelurahan Pajang, Laweyan, masih ditutup untuk sepeda motor, Senin (20/9). Jembatan itu baru selesai direnovasi dua pekan lalu dan diperkirakan akan kembali dibuka sepekan lagi.

Pengamatan Espos, sejumlah batang bambu melintang di jembatan itu untuk pertanda larangan sepeda motor untuk melintas. Namun untuk sepeda dan pejalan kaki sudah diijinkan melintas. “Betonnya masih basah, jadi dibiarkan seminggu lagi mungkin sudah bisa dibuka,” kata salah satu tokoh masyarakat di Kampung Bratan RT 1/IX Pajang, Rosyidi, saat ditemui Espos di lokasi.

Jembatan tersebut saat ini selebar dua meter dan panjang 19 meter dengan konstruksi beton lebih kuat. Sebelumnya, jembatan alternatif warga itu selebar satu meter dengan lantai aspal. Tiang penopang juga dibuat lebih besar dari sebelumnya. “Warga sudah tidak perlu waswas, ini lebih kuat dari sebelumnya. Juga tidak perlu antre karena sekarang lebih lebar,” tambahnya.

Namun, pembangunan jembatan itu belum lengkap karena tidak disertai dinding pelindung di kanan dan kiri. Hanya ada batangan besi yang diikat dengan besi lainnya. Hal ini untuk melindungi warga terutama anak-anak yang melintas. Agar memberi kenyamanan warga yang melintas saat malam hari, juga disediakan lampu neon sebagai penerangan.

Dana renovasi jembatan itu berasal dari PNPM MP senilai sekitar Rp 14 juta ditambah swadaya masyarakat. Renovasi jembatan itu, khususnya pada tahap pengecoran hanya membutuhkan waktu satu hari, sedang tiang penyangga butuh beberapa hari. “Kami kerja bakti, saya dan warga lainnya juga ikut membantu dengan tenaga. Tapi juga butuh yang ahli, kemarin ada tukangnya yang ikut membantu,” ujarnya.

Rosyidi mengatakan warga di kedua kampung itu sangat membutuhkan keberadaan jembatan ini. “Yang Belukan mau ke Pasar Jongke bisa lewat sini, tidak perlu memutar. Demikian juga warga Bratan yang sekolah di Laweyan bisa lebih cepat,” ungkapnya.

m86

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…