Senin, 20 September 2010 21:46 WIB Sukoharjo Share :

Penutupan DAM Colo, Dispertan optimalkan pompanisasi

Sukoharjo (Espos)–Dam Colo yang mengaliri ribuan hektare sawah di Kabupaten Sukoharjo bakal ditutup mulai 1 Oktober-31 Oktober. Untuk mengurangi masalah irigasi di Kota Makmur, Dinas Pertanian (Dipertan) bakal mengoptimalkan sistem pompanisasi pada tiap-tiap wilayah.

Kepala Dispertan Sukoharjo, Giyarti mengatakan pihaknya telah menyosialisasikan program pompanisasi ke masing masing Unit Pelaksana Teknis Daerah(UPTD) di tiap kecamatan. Agar, mereka mempersiapkan teknis pengairan pada saat Dam Colo ditutup. “Penutupan  Dam Colo sudah menjadi agenda rutin tiap tahun. Penutupan itu dikarenakan adanya perbaikan oleh DPU (Dinas Pekerjaan Umum-red),” jelas Giyarti saat ditemui wartawan di Gedung DPRD Sukoharjo, Senin (20/9).

Dia menjelaskan, persiapan itu termasuk penyediaan mesin pompa air di masing-masing wilayah. Menurut Giyarti, hampir di setiap UPTD atau kelompok tani memiliki mesin pompa air. Dan diperkirakan jumlahnya mencapai ratusan buah. “Di Kantor Dispertan masih ada 15 pompa air. Kalau memang nanti diperlukan akan kami pergunakan ke lapangan,” tukas Giyarti.

Dam Colo yang digunakan untuk mengairi ribuan hektare areal persawahan di sebagian wilayah Kabupaten Sukoharjo merupakan andalan bagi petani. Menurut Giyarti, hampir semua persawahan di kabupaten ini mengandalkan pengairan dari Dam Colo.  “Penggunaan air di Dam Colo hampir di semua wilayah, seperti Polokarto, Bendosari, Nguter, dan lain-lain. Kecuali Baki dan Gatak,” jelas dia.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) Dam Colo, Sarjanto mengatakan kurang yakin dengan program pompanisasi yang digalakkan Pemkab. Pasalnya, lanjut dia, tidak semua wilayah terdapat sumur pantek atau tancap. “Seolah-olah dengan pompanisasi, semua wilayah bisa didirikan atau ada sumur pantek. Padahal tidak,” jelas Sarjanto.

Antisipasi minimnya penyediaan air pada saat Dam Colo ditutup seharusnya diterapkan jauh-jauh hari sebelum penutupan bendungan tersebut dilakukan. Salah satunya pengompakkan masa tanam di tiap-tiap wilayah Sukoharjo. Paling tidak, imbuhnya, ketika Dam Colo ditutup, umur tanaman padi milik petani telah memasuki usia 60-70 hari, yang relatif tahan krisis air.

“Selama ini, musim tanam di Sukoharjo belum serentak. Harusnya itu yang menjadi perhatian Pemkab sebelum Dam Colo ditutup.Kalau umur tanaman masih kurang dari satu bulan, tentu masih membutuhkan banyak air, ” kata dia.

Sarjanto menambahkan saat musim kemarau, pompanisasi tidak akan berhasil mengatasi kelangkaan air saat Dam Colo ditutup. Tapi untungnya, lanjutnya, tahun ini relatif aman karena meski dalam musim kemarau tapi hujan hampir turun tiap hari. “P3A siap bila Pemkab mengajak koordinasi petani terkait pengendalian air pada saat Dam Colo ditutup,” tandas dia.

hkt

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…