Senin, 20 September 2010 18:18 WIB News Share :

Pengusaha masih anggap jaminan pekerja sebagai beban

Semarang–Kepala Kantor Wilayah V PT Jamsostek Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta Ferry Atorid menilai sejumlah pengusaha masih menganggap jaminan keselamatan pekerja sebagai beban.

“Memang tidak semuanya (pengusaha-red.), namun beberapa masih menganggap jaminan keselamatan pekerja merupakan beban sehingga belum mendaftarkan pekerjanya ke PT Jamsostek,” katanya di Semarang, Senin (20/9).

Ia menyebutkan dari sekitar 2.500 industri di wilayah Jateng-DIY, perusahaan yang sudah mendaftarkan seluruh pekerjanya sebagai peserta Jamsostek baru sebesar 60 persen, sedangkan 40 persennya belum.

Kebanyakan industri yang belum mendaftarkan pekerjanya, lanjutnya, adalah sektor industri tekstil dan mereka tergolong “perusahaan daftar sebagian”, dalam pengertian baru mendaftarkan sebagian pekerjanya.

“Itu (perusahaan daftar sebagian, red.) kebanyakan industri besar, kalau untuk kalangan industri kecil banyak juga yang belum mendaftarkan jaminan keselamatan pekerjanya sama sekali,” katanya.

Menurut dia, sejumlah pengusaha masih menilai keikutsertaan para pekerjanya dalam layanan Jamsostek adalah beban, sebab mereka harus mengeluarkan sejumlah dana rutin untuk menanggung para pekerjanya itu.

Padahal, kata dia, keikutsertaan para pekerja dalam layanan Jamsostek sebenarnya merupakan keuntungan, karena kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja dan sebagainya yang menimpa para pekerja sangat besar.

“Kami melayani tiga jaminan, yakni jaminan kecelakaan kerja, jaminan pemeliharaan kesehatan, dan jaminan penyakit akibat pekerjaan yang sangat rentan menimpa para pekerja dalam menjalankan profesinya,” ucapnya.

Namun, tambah dia, pihaknya memilih melakukan pendekatan kemanusiaan untuk menyadarkan pengusaha terhadap pentingnya keikutsertaan dalam Jamsostek, bukan pendekatan secara “law inforcement” (penindakan).

“Pendekatan secara kemanusiaan lebih efektif dibandingkan pendekatan secara hukum. Jaminan keselamatan kerja memang ditanggung oleh pengusaha sesuai Undang-Undang Nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan,” imbuhnya.

Kalau kesadaran dari kalangan pekerja untuk menjadi peserta Jamsostek, jelas dia, sepertinya cukup tinggi, tetapi kesadaran dari para pengusaha yang biasanya menjadi hambatan terhadap hal tersebut.

“Kesadaran para pekerja sudah bagus, apalagi untuk wilayah Jateng-DIY yang didukung dengan budaya ‘nurut’ (patuh), tetapi biasanya justru dari pengusaha. Karena itu, kami terus melakukan pendekatan,” ujar Ferry.

ant/nad

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…