Senin, 20 September 2010 20:09 WIB Kolom Share :

Orang baik dan orang jahat...

“Hanya ada dua jenis manusia di muka bumi ini: Manusia baik, yaitu yang melakukan perbuatan baik dan manusia jahat, yaitu yang melakukan perbuatan jahat.”

Bagi yang pernah menonton film My Name Is Khan, tentu kenal dengan ungkapan di atas. Rizwan Khan (diperankan oleh Shahrukh Khan) selalu ingat pesan ibunya itu. Pesan itulah yang menyelamatkan hidupnya, mendorongnya melakukan perbuatan kemanusiaan tanpa mengenal perbedaan agama maupun ras. Dia, seorang muslim taat, yang tetap salat di pinggir jalan karena sudah masuk waktu salat, tak peduli seluruh penumpang bus menungguinya. Dia memandang dunia dengan segala perbedaannya melalui pendekatan kasih sayang, bukan kebencian. Dia, yang seorang autis, menginspirasi kebaikan untuk semua manusia, makhluk penghuni planet yang sama.

Ungkapan itu adalah nasihat bijak seorang ibu untuk anaknya yang dianugerahi Asperger Syndrome, yang membuatnya mempunyai cara berinteraksi sosial yang aneh. Khan dilahirkan di tengah kemajemukan masyarakat India yang mayoritas beragama Hindu. Khan diajari taat kepada agamanya, dengan tidak melupakan penghormatan atas keyakinan orang lain karena ajaran agamanya mengatakan bahwa yang sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna bagi sesama, yang paling mulia di hadapan Tuhannya adalah yang paling berbakti kepada-Nya.

My Name Is Khan menceritakan bagaimana kebencian dan prasangka rasial meningkat setelah tragedi kemanusiaan 11 September 2001, yang meruntuhkan dua menara World Trade Center (WTC) di New York, yang menewaskan ribuan orang. Tetapi Khan yang satu ini mengingatkan semua orang, dengan caranya yang mungkin terlihat aneh bahwa kasih sayang adalah kunci mengatasi segala prasangka dan perbedaan di dalam masyarakat, sebuah ruang di mana segala perbedaan–suka tidak suka– dipertemukan.

Khan, sudah tentu harus menghadapi prasangka rasial atas dirinya karena namanya yang jelas-jelas bernuansa muslim Asia Selatan. Maka dalam film itu, dia sering mengatakan, “My name is Khan, and I’m not a terrorist.”

Pesan yang dibawa film ini, meskipun mungkin berkesan “sangat film”, menarik untuk disebarkan kepada seluruh warga masyarakat dalam segala tingkatannya. Apalagi belakangan, sentimen rasial berbasis perbedaan keyakinan ini beberapa kali muncul di ruang publik. Misalnya, kita miris mendengar rencana pembakaran Alquran oleh sekelompok kecil warga Amerika Serikat.

Kita prihatin ketika mendengar kabar penusukan jemaat Gereja HKBP di Bekasi. Kita sedih ketika mendengar melalui situs Harian Waspada Medan, ada mesjid dirusak di Sumatra Utara. Yang membakar, yang menusuk, yang merusak, mungkin tidak terlalu memahami ajaran agama masing-masing, kecuali sedikit saja. Dan hampir pasti mereka tidak memahami kedalaman agama dan keyakinan orang lain.

Lebaran

Setiap agama sudah pasti mempunyai konsep dan pesan keselamatan masing-masing yang diyakini para pemeluknya. Tetapi, orang tidak bisa memaksa agar pesan dan konsep itu juga diyakini orang lain. Agama mengajarkan bahwa tidak ada paksaan dalam agama, pesan keselamatan agama seseorang juga tidak bisa dipaksakan kepada orang lain, meskipun dia membawa seluruh bukti dan penjelasan yang dianggapnya sangat jelas.

Yang perlu dipahami, agama-agama samawi mewajibkan umatnya menyebarkan kabar keselamatan itu ke seluruh muka bumi. Maka pertemuan dari kepentingan itu, mestinya dibungkus dengan pendekatan kasih sayang karena jika dibungkus dengan kebencian, yang terjadi adalah bencana, mala petaka dan catatan sejarah manusia sudah sangat padat oleh kisah seperti itu.

Dalam konteks Lebaran atau bakda atau Idul Fitri, yang sampai kini bau “opor Lebaran”-nya masih belum hilang dari radar hidung, semestinya sekarang ini sedang musim orang yang masuk kategori pertama, yakni orang baik. Kenapa? Karena baru saja banyak orang melakukan perbuatan baik dalam bentuk saling berebut mengaku salah, saling meminta dan memberi maaf.

Masyarakat Jawa memaknai Lebaran sebagai media untuk mad sinamadan, yakni saling memaafkan, saling menghormati, di antara orang-orang, tanpa mengenal batas umur, kedudukan dan perbedaan apapun. Konsep mad sinamadan menempatkan orang dalam posisi sejajar satu sama lain. Dalam kemajemukan Indonesia, konsep ini urgen untuk dipegang kuat bersama-sama.

Begitulah kita semestinya menyikapi segala perbedaan dengan mad sinamadan, dengan saling menghormati, bukan dengan mempertajam kebencian apalagi berdendam.

Suwarmin

Station Manager Star Jogja FM

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…