Senin, 20 September 2010 12:24 WIB Issue Share :

Hanung Bramantyo senang Sang Pencerah dikritik

Jakarta–Sutradara Hanung Bramantyo bukan hanya dibanjiri pujian atas filmnya Sang Pencerah. Ada juga beberapa pihak yang mengkritik, salah satunya pengamat telematika sekaligus anggota DPR, Roy Suryo.

“Saya senang karena saya sadar membuat film seperti ini tidak bisa dibuat di situasi industri film tidak punya studio seperti di Hollywood, Bollywood. Di Iran saja ada studio, di sini kok nggak ada,” ujar Hanung saat ditemui di Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (19/9) malam.

Suami Zaskia Mecca itu mengaku ia nekat membuat Sang Pencerah meski tidak didukung situasi yang kondusif industri film Tanah Air. Dengan kenekatannya tersebut, Hanung pun sadar konsekuensi yang akan didapatnya. “Tidak detail, banyak yang tidak mencerminkan tahun 1800, banyak properti yang lewat, banyak data yang meleset, itu saya akui,” jelasnya.

Namun Sang Pencerah bukanlah pencapaian terakhir Hanung. Malah film tentang KH Ahmad Dahlan itu menjadi sebuah awal trend film sejarah.

Sekadar informasi, Roy mengkritik mengenai setting Sang Pencerah.  Menurutnya dalam film tersebut Tugu Yogyakarta digambarkan terlalu kecil. Jalan-jalan yang ada di film itu, yang dikisahkan terjadi pada tahun 1800-an juga terlalu lebar.

Apa kata Hanung lagi? “Jangankan Tugu Yogya, semuanya kalau mau dibikin satu berbanding satu, butuh tempat yang lebih besar. Kalau penonton melakukan napak tilas pergi ke Kauman, itu lebih besar tiga kali lipat dari film, saya sadar betul,” jawabnya.

Hanung berujar lagi, Sang Pencerah dibuatnya bukan untuk para kritikus seperti Roy Suryo. Film yang dibintangi Lukman Sardi itu justru ditujukkannya untuk penonton awam yaitu anak-anak muda. “Anak-anak muda ini punya kecenderungan simple, jangankan melihat Kyai Dahlan, melihat apapun seperti politik itu butuh sesuatu yang simple,” tandas sutradara peraih Piala Citra itu.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…