Senin, 20 September 2010 16:05 WIB News Share :

Hadapi vonis, Kompol Arafat memakai pakaian serba hitam

Jakarta--Jelang pembacaan vonisnya, Kompol Arafat Enanie masih bisa santai. Di kantin belakang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, ia menyeruput sebotol teh dingin. Sembari tersenyum, ia bercerita tentang kasus yang membelitnya.

“Saya kan statusnya enggak jauh beda sama Bu Tini (AKP Sri Sumartini, dituntut 2 tahun penjara-red). Semua bukti hanya berdasar omongan saksi. Nggak ada bukti,” kata Komisaris Arafat Enanie saat menunggu vonis di PN Jakarta Selatan, Senin (20/9).

Adalah Jaksa Asep Mulyana yang menuntut empat tahun penjara beberapa pekan lalu. Asep berkeyakinan, Arafat berkomplot dengan sejumlah orang untuk mencairkan dana Gayus Tambunan senilai Rp 28 miliar.

Mereka yang disebut yakni Roberto Atonius (saksi), AKBP Mardiyani (saksi), AKP Sri Sumartini (terdakwa), Haposan Hutagalung (terdakwa), Andi Kosasih (terdakwa) dan Lambertus Ama (terdakwa).

Komplotan ini bertugas mengakali bagaimana uang sebesar itu dapat dicairkan karena sedang diblokir dan dianggap transaksi mencurigakan.

“Terdakwa bekerjasama di Hotel Kartika Chandra bersama-sama dengan yang lain membuat kuitansi palsu juga surat fiktif yang menyatakan uang itu milik Andi Kosasih,” kata Asep dalam dakwaan maupun tuntutan.

Tetapi, Arafat tidak lekang. Ia tetap menyatakan dirinya tidak terlibat. Sebab, menurutnya, semua dakwaan jaksa tidak berdasar pada saksi langsung melainkan hanya sumber kedua atau ketiga. Begitupula dengan isi tuntutan.

“Sekarang beginilah. Saya inikan hanya yang kecil-kecil. Saya enggak ikut-ikut. Saya pakai hitam-hitam sebagai belasungkawa matinya hukum,” celoteh Arafat yang memilih berbaju hitam dan bercelana serupa.

Ia tetap berkeyakinan persidangan kali ini sarat rekayasa. Ia pun sudah menduga pengadilan akan berlaku tidak adil baginya.

“Dari awal saya siap menerima vonis. Apapun hasilnya, ini cuma rekayasa. Taulah mau kemana,” tukas Arafat sambil bergegas salat Asar.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…