Sabtu, 18 September 2010 15:47 WIB News Share :

Minum obat resep dokter, tubuh bocah melepuh

Mataram–Malang benar nasib Indri Jati Rahim, bocah berumur sembilan tahun asal Gatep, Kecamatan Babakan, Kota Mataram. Seluruh badannya melepuh seperti habis dilalap api, justru setelah minum obat hasil resep dokter. Dari mulutnya pun kini, nanah tak berhenti menetes.

Indri hanya bisa berbaring meringkuk lemah di ruang rawat inap nomor 248 bangsal Dahlia Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB. Tatapanya kosong. Ia tak kuasa bicara. Di pembaringan itu, Indri pun harus tidur beralaskan daun pisang. Dokter akhirnya harus mengisolasi bocah itu karena kulitnya yang melepuh itu.

Derita yang dialami Indri bermula ketika ia hanya sakit mata, lalu dibawa orang tuanya ke dokter di poli anak di rumah sakit milik Pemprov NTB itu. Oleh dokter, Indri dinyatakan bukan hanya sakit mata, namun diduga ada kelainan pada syarafnya.

Belakangan setelah pemeriksaan intensif, siswa kelas IV SD ini diketahui mengidap penyakit epilepsi, bukan sakit syaraf. Tak ragu lagi, dokter memberinya obat ayan. Biar mujarab, obat untuk Indri diberikan dokter sekalian untuk kebutuhan satu bulan.

Namun malang, obat epilepsi bukannya menyembuhkan, tapi memberi malapetaka. Sumarni, ibu Indri di RSUP NTB Sabtu (18/9) siang mengatakan, anaknya tiga hari lalu terakhir mengonsumsi obat epilepsi dari resep dokter itu. Dan hasilnya, seluruh tubuh anaknya melepuh dan bernanah.

Di dekat dipan tempatnya berbaring di RSUP NTB, Sumarni masih menyimpan segepok obat untuk anaknnya itu.

Mawardi Hamri, Direktur Utama RSUP NTB pada wartawan di Mataram menampik, kalau derita Indri akibat malapraktik dokter. Indri kata Mawardi terkena Steven Johnson Syndrome atau reaksi parah terhadap obat. “Itu reaksi tubuh yang berat terhadap alergi obat. Itu biasa. Orang kalau alergi obat, sekali suntik juga bisa mati. Jadi bukan malapraktik dokter,” kata Mawardi.

Ia yakin, sebelum diberikan obat epilepsi itu, dokter yang menanganinya telah menanyakan, apakah Indri ada alergi terhadap obat atau tidak. “Kenapa diberikan obat itu, pasti karena dijawab tidak ada alergi,” ujarnya.

Lalu Ahmadi, salah satu dokter yang kini menangani Indri mengatakan, bocah itu sama sekali tidak memiliki riwayat terhadap obat epilepsi. Karena itu, menurutnya tak tepat jika dokter disalahkan. Justru kata dia, kalau tak diberikan obat epilepsi, Indri bisa cacat. “Kondisinya 80 persen tubuhnya melepuh. Tapi dalam tiga minggu akan membaik kok,” ujarnya. Kata Ahmadi, Indri harus diisolasi untuk mendapat perawatan intensif, dan lebih cepat sembuh.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…