Sabtu, 18 September 2010 18:05 WIB News Share :

KPAI minta pemerintah standardisasi mainan demi keamanan anak

Jakarta–Bukannya membuat senang, pistol mainan malah bikin sengsara. 20 Orang harus dirawat di rumah sakit di Padang gara-gara terkena peluru dari pistol-pistolan. Bahkan beberapa di antaranya harus dirawat cukup lama.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun mendesak agar pemerintah mengawasi produk mainan anak-anak yang tersebar di pasaran. Jangan sampai, korban terus bertambah, bukan saja dari pistol mainan tapi juga mainan yang lain.

“Kepada Kementerian Perindustrian agar segera mengeluarkan regulasi standarisasi produk mainan anak, disertai mekanisme pengawasan peredaran produk di masyarakat,” kata Ketua KPAI Hadi Supeno dalam rilis kepada detikcom, Sabtu (18/9).

Selain itu, KPAI juga meminta polisi untuk menggelar razia khusus mainan anak-anak yang dianggap berbahaya. Saat ini, karena tidak ada pengawasan, sejumlah mainan yang bisa mengancam seperti senapan, pisau, dan berbagai jenis senjata tiruan bebas beredar.

“Kita juga minta produsen agar bertanggung jawab atas jatuhnya korban yang disebabkan oleh mainan tersebut, atau apa yang disebut sebagai product defect, yakni pertanggungjawaban produsen atas produknya bagi konsumen. Produsen juga untuk tidak ragu menarik semua produknya dari pasaran,” kata Hadi.

Selain itu, KPAI juga mengimbau agar bea dan cukai selektif dalam meloloskan jenis mainan anak yang masuk ke Indonesia. Mainan anak yang terbuat dari bahan-bahan yang membahayakan, dan efek permaianan juga membahayakan agar tidak diloloskan.

“Orang tua diimbau untuk bisa melakukan bimbingan dan arahan mainan apa yang diizinkan untuk anak-anak. Orang tua harus tegas melarang,” kata Hadi.

Sebelumnya sedikitnya 20 orang di Padang dilarikan ke rumah sakit RSUP M Djamil Padang karena terkena peluru dari pistol mainan. Anak-anak tersebut terkena tembakan setelah bermain-main pada hari Lebaran.

Sejumlah anak yang tidak bermain juga terluka karena terkena peluru nyasar. Tidak hanya anak kecil, sejumlah orang dewasa juga mengalami luka karena terkena peluru nyasar.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…