Jumat, 17 September 2010 07:39 WIB News Share :

Yenny nilai pernyataan Menag soal pembubaran Ahmadiyah tak tepat

Jakarta –– Menteri Agama, Suryadharma Ali menyerukan dalam waktu dekat akan membahas soal pembubaran ajaran Ahmadiyah. Pernyataan itu dinilai tidak tepat dilontarkan oleh seorang menteri.

“Bagi saya tidak tepat dan sangat salah,” kata salah satu putri Almarhum Gus Dur, Yenny Wahid, seusai menghadiri aksi Solidaritas Kebebasan Beragama bersama beberapa elemen masyarakat di Bundaran HI, Jakarta, Kamis (16/9).

Dia mengatakan, pernyataan itu bisa saja akan dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk menyudutkan golongan minoritas tertentu.

“itu bisa (jadi) pembenar dan alasan bagi kelompok garis keras untuk melakukan kekerasan bagi kelompok Ahmadiyah di lapangan nanti. Nanti mereka bisa bilang orang menteri bilang boleh kok. Apakah kita mau yang seperti itu?” keluh istri anggota DPR, Dhohir Farisi.

Sebagai penganut agama Islam, dia tidak ingin agamanya dianggap sebagai suka mendiskrimasikan kelompok tertentu. Sebab yang berbau keyakinan, menurutnya tidak seorang pun ada yang bisa memaksakan.

“Kita boleh tidak setuju dengan keyakinan teman Ahmadiyah, saya juga tidak terlalu tahu akidah mereka seperti apa, tapi bahwa mereka berhak meyakini keyakinan mereka. Dan kita tidak bisa paksakan keyakinan kita pada mereka,” jelasnya.

“Masalah akidah itu adalah masalah pemeluk agama dan Tuhannya langsung, jadi negara hanya punya tugas untuk mengamankan agar tidak terjadi gesekan antar pemeluk keyakinan,” tutupnya.

Sebelumnya pro dan kontra terus terjadi seputar ajaran Ahmadiyah. Melihat kondisi ini Menteri Agama Suryadharma Ali sepakat agar Ahmadiyah dibubarkan.

“Membiarkan tidak ada dasar hukumnya, tapi membubarkan ada dasar hukumnya. Dasar hukumnya yaitu SKB tiga menteri serta UU No 1 PNPS/1965. Menurut saya membubarkan itu jauh lebih baik dari membiarkan, karena dengan membubarkan kita berusaha keras menghentikan kesesatan yang berkelanjutan,” jelas Surya beberapa waktu lalu.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…