Jumat, 17 September 2010 21:06 WIB Solo Share :

Syawalan di Balekambang, menebar ilmu dan membagi hasil bumi...

Pandangan Saptri, 43, bersama kedua anaknya tak luput dari aksi peperangan yang mengiringi kirab Ki Ageng Pemanahan, Jumat (17/9). Perempuan asal Baki, Sukoharjo itu sengaja datang ke Balekambang sejak pukul 08.00 WIB untuk melihat acara tersebut.

“Saya dengar disini ada kirab jam sebelas (11.00 WIB-red). Jadi saya menunggu disini dari jam delapan pagi (08.00 WIB-red). Ternyata kirabnya baru sore hari,” ungkapnya saat dijumpai Espos.

Ia tak patah semangat, ia tetap menunggu hingga acara kirab dimulai. “Sambil menunggu kirab, kami menghabiskan waktu di area pancingan dan <I>outbond<I>,” terang perempuan yang berprofesi sebagai penjual mi ayam ini. Selain Saptri ada ratusan orang lainnya yang ikut menyaksikan kirab Ki Ageng Pemanahan sebagai acara puncak Syawalan Balekambang.

Kirab diberangkatkan dari Hotel Wijaya pukul 15.00 WIB. Ki Ageng Pemanahan yang diperankan oleh anggota senior Ketoprak Balekambang, Agus Paminto, menaiki kereta kuda menuju Taman Balekambang. Mereka diikuti oleh iring-iringan pembawa umbul-umbul, musik bambu dan pembawa gunungan dari Karang Taruna Kelurahan Kadipiro.

Sesampainya di pintu masuk Taman Balekambang, sekelompok jin menghadang rombongan tersebut. Dengan rambut berwarna merah dan baju yang serba hitam. Serta dandanan yang tebal membuat beberapa anak kecil yang melihat pertunjukan itu menangis karena takut.

Setelah jin tersebut dapat dikalahkan, gunungan yang berisi buah-buahan dan umbi-umbian dibagikan kepada masyarakat.

Dalam pertunjukan itu, diiringi oleh narasi dari seniman Solo, Jo Leno dan gendhing Jawa. Ia juga menyanyikan lagu Bengawan Solo dan lagu Lembe-lembe dengan aransemen modern dan tradisional.

Menurut koordinator acara kirab, Tatak Prihantoro, ada sebuah pesan moral dari acara kirab tersebut. “Dalam kirab tersirat pesan kebaikan dan kerukunan dengan cara menebar ilmu dan membagi hasil bumi,” jelasnya seusai acara kirab.

m91

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…