Jumat, 17 September 2010 20:19 WIB Karanganyar Share :

Rasulan, sebagai tanda syukur pada Tuhan

Rasa syukur akan nikmat yang diberikan Tuhan, bisa diwujudkan dengan berbagai cara. Salah satunya yakni dengan menggelar tasyakuran dan wilujengan. Hal itulah yang dilakukan oleh sejumlah warga di lingkungan Manggung, Kelurahan Cangakan, Karanganyar Kota. Upacara itu sering juga dikenal dengan nama Rasulan.

Sejak Kamis (16/9) sore kamarin, semua warga Manggung disibukkan dengan persiapan Rasulan. Ada yang bersih-bersih lingkungan sekitar, ada pula yang sibuk membuat makanan. Pada Jumat (17/9) pagi, semua warga berkumpul di tanah lapang, dekat lokasi pemakaman setempat. Mereka ke sana sambil menenteng panjang ilang.

Panjang ilang
yakni dua wadah yang terbuat dari daun kelapa muda. Satu wadah berisi nasi dan berbagai lauk pauk seperti srundeng, kerupuk, dan ikan. Sedangkan wadah kedua berisi buah-buahan, sayuran, dan berbagai makanan tradisional. Dua wadah itu disimbolkan sebagai laki-laki dan perempuan. Per keluarga membawa dua panjang ilang. “Semua makanan ini adalah hasil bumi. Setelah didoakan, lalu dimakan bersama-sama,” ujar salah satu sesepuh lingkungan Manggung, Siman, 62, saat dijumpai Espos, Jumat (17/9) pagi.

Jumat siang sekitar pukul 11.00 WIB, digelar wayang kulit dengan lakon Sri Mulih. Lakon tersebut merupakan gelaran wajib saat Rasulan, sebab banyak masyarakat setempat yang menyukai. Sekitar pukul 21.00 WIB malam, dilaksanakan kenduri berupa gelaran wayang, dengan lakon yang berbeda dari sebelumnya.

Peringatan setahun sekali ini sedianya dilaksanakan pada Jumat-Pon, Agustus lalu. Lantaran hari itu bertepatan pada saat puasa Ramadan, maka tradisi Rasulan diundur pada bulan berikutnya.

Rasulan oleh warga Manggung kali ini, bisa dibilang berbeda dari Rasulan tahun sebelumnya. “Ada semacam kampanye anti-Narkoba di sela-sela acara kenduri,” tutur salah satu anggota karang taruna Manggung, Suratno.

m87

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…