Rabu, 15 September 2010 16:13 WIB News Share :

Pro kontra rencana pembangunan tugu di Salatiga

Salatiga (Espos)–Kalangan DPRD terbelah terkait rencana Walikota Salatiga, John Manuel Manoppo, membangun tugu di Bundaran Tamansari dengan anggaran Rp 2 miliar lebih.

Selain anggaran yang dianggap terlalu besar, pro kontra di kalangan masyarakat juga menyangkut nama tugu yang awalnya akan diberi nama “Tri Gosti” juga menuai interpretasi beragam dan dianggap dapat menganggu kondusifitas kota yang sudah terjaga selama ini.

Walikota dijadwalkan akan menggelar ekspose soal rencananya itu di hadapan wakil rakyat dalam sidang paripurna internal Senin (20/9) pekan depan. Akan ada banyak pertanyaan yang harus dijawab Walikota yang bersikeras tetap menjalankan rencananya tersebut kendati terdapat pertentangan, salah satunya dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat.

Anggota DPRD dari PKPI, Elisabeth Dwi Kurniasih, menilai pembangunan tugu dengan nominal fantastis itu dianggap belum perlu. Menurutnya banyak kebutuhan lain yang perlu mendapat prioritas oleh Pemkot Salatiga untuk dipenuhi ketimbang harus membangun tugu yang dinilai kurang memberikan manfaat bagi kepentingan publik.

“Kalau alasannya untuk memberikan kenang-kenangan di penghujung kepemimpinan Walikota, seharusnya kenang-kenangan itu disesuaikan dengan identitas kota,” ujarnya, ketika ditemui Espos di ruang kerjanya, Rabu (15/9).

Pendapat berbeda diutarakan M Kemat, anggota DPRD dari PDIP. Ia pribadi mengaku tak menolak dengan rencana Walikota. Soal besarnya anggaran yang dibutuhkan, menurutnya wajar karena selain tugu rencananya akan dibuat pula patung dua pahlawan nasional yang diabadikan sebagai nama jalan yang terhubung dengan Bundaran Tamansari, yakni Pangeran Diponegoro dan Jenderal Soedirman.

“Patung ini terbuat dari perunggu dan biayanya sekitar Rp 600 juta. Jadi wajar saja jika butuh anggaran besar. Kedua patung ini akan berdiri di masing-masing ujung jalan,” katanya.

Sementara penentangan pembangunan tugu oleh MUI lebih dikaitkan dengan namanya. Nama “Tri Gosti” diinterpretasikan sebagian warga sebagai tiga tuhan. Nama ini dinilai bisa menimbulkan memecah kerukunan antaragama yang selama ini terjalin dengan apik.

Sementara Walikota menyatakan jika persoalaannya ada pada nama, maka pemilihan nama tugu itu belum final. “Kami belum menetapkan nama tugu itu,” tukas Walikota.

kha

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…