Rabu, 15 September 2010 22:15 WIB Solo Share :

Demi nafkah, rela tidur di emperan rumah orang

Lebaran memang sudah berlalu, tetapi tradisi Bakda Kupat atau Lebaran Ketupat sudah di depan mata. Tradisi yang biasa digelar pada hari ke tujuh bulan Syawal ini tentu mendatangkan berkah bagi para pedagang selongsong ketupat di pinggiran jalan Kota Solo.

Cukup berbekal janur kuning dan keterampilan membuat ketupat, mereka rela bersahabat dengan terik matahari serta kepulan asap kendaraan bermotor. Umumnya mereka datang dari berbagai daerah di luar Kota Solo seperti Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar dan lain-lain.

Mereka seolah tak ingin melewatkan waktu sedikitpun untuk menjajakkan dagangannya di pinggiran jalan. Tanpa lelah mereka melayani pembeli yang datang silih berganti tak peduli siang atau malam.

“Bakda Kupat hanya datang setahun sekali. Mumpung ada kesempatan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” ujar Supardi, 50, salah seorang pedagang selongsong ketupat yang berasal dari Dukuh Rejomulyo, Desa Candi, Kecamatan Ampel, Boyolali saat ditemui Espos di pinggiran Jl Veteran, Rabu (15/9).

Sambil merajut janur kuning menjadi selongsong ketupat, ayah tiga orang anak ini berkisah sudah menjajaki profesi sebagai pedagang musiman itu sejak masih perjaka. Menurutnya, bagi sebagian warga Dukuh Rejomulyo, Bakda Kupat adalah berkah. Tak heran, mereka berbondong-bondong ke Kota Solo untuk menjual selongsong ketupat. Hingga kini, kebiasan berjualan selongsong ketupat itu masih berlanjut.

“Saya berjualan ketupat sejak harganya masih Rp 150 per 10 selongsong. Hingga kini, harganya sudah Rp 5.000 per 10 selongsong, namun saya tidak tahu kapan akan menghentikan kebiasaan tahunan ini,” tukas Supardi seraya menyeka keringat yang sudah bercampur dengan kepulan asap kendaraan di jidatnya.

Selama tiga hari dua malam menjelang Bakda Kupat, biasanya para penjual selongsong ketupat itu mulai menampakkan diri di jalanan Kota Solo. Biasanya mereka datang dengan mencarter kendaraan menuju kota. Selama tiga hari dua malam itulah, mereka tidak pulang ke kampung halaman. Mereka memanfaatkan emperan rumah atau kios milik orang lain untuk sekadar melepas lelah.

“Dua anak saya masih sekolah. Sebagai kepala rumah tangga, saya berkewajiban menafkahi keluarga. Tak apa jika harus tidur di emperan rumah orang lain dan berkawan nyamuk maupun tikus comberan,” papar Supardi.

mkd

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…