Senin, 13 September 2010 23:59 WIB Solo Share :

Puluhan PKL tiket bodong ramaikan Tirtonadi

Solo (Espos)–Calo penjual tiket putihan atau tiket bodong kini makin nekat berkeliaran di Terminal Tirtonadi. Apabila sebelumnya mereka bekerja secara sembunyi-sembunyi di malam hari kini mereka mulai berani menjual tiket ilegal itu pada siang hari.

Berbeda dengan calo resmi yang tercatat di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Terminal Tirtonadi, keberadaan pedagang kaki lima (PKL) tiket bodong (sebutan bagi calo tak resmi-red) lebih sulit dilacak. Sebab, penampilan mereka tak ubahnya calon penumpang bus dengan busana kasual seperti hem dan celana jeans.

Sebaliknya para calo resmi yang tergabung dalam Himpunan Agen Bus Malam Terminal Tirtonadi (Habma) diwajibkan pihak terminal mengenakan seragam warna cokelat muda. Tak hanya berbeda dari sisi seragam, karakter calo resmi dengan PKL calo dalam bekerja juga berbeda. Para calo resmi kebanyakan bekerja secara bergerombol sementara PKL calo ini bekerja secara terpisah dari rekan-rekannya.

Kebanyakan dari mereka beroperasi di jalur Solo-Jakarta untuk bus carteran atau bus nonreguler yang pada hari-hari biasa tidak digunakan untuk trayek tersebut. Pasalnya bus carteran ini hanya ada ketika Hari Lebaran untuk melayani jumlah penumpang yang membeludak.

Berdasar pantauan, ada sedikitnya delapan orang PKL calo yang nekat beroperasi di jalur Solo-Jakarta Senin (13/9) siang. Beberapa dari mereka tak hanya hanya menawarkan jasa bus namun juga melayani urusan tiketing yang tak lain adalah tiket bodong.

Sebelumnya, seorang pemasok tiket bodong di Terminal Tirtonadi, FN mengakui persoalan terkait calon penumpang yang berhubungan dengan lonjakan tarif kebanyakan disebabkan para calo yang tidak tergabung dalam Habma. “Biasanya yang sering menyalahgunakan tiket dan tarif memang rekan-rekan kami yang nakal. Mereka itu sebenarnya sudah dikeluarkan dari Habma namun masih nekat beroperasi di terminal,” jelasnya.

Dijumpai di Terminal Tirtonadi Senin (13/9), Ketua Habma M Kaniman mengakui ada beberepa dari anggotanya yang dikeluarkan dari organisasi pada tahun lalu. Jumlah mereka tepatnya ada 47 orang calo. Kebijakan mencabut keanggotaan mereka dari Habma berdasarkan kebijakan Kepala Terminal Tirtonadi yang lama, Sardjono.

Kaniman tak memungkiri dari puluhan orang calo keanggotaannya di Habma sudah dicabut, kebanyakan mereka kembali ke terminal untuk mencari sesuap nasi. “Kasihan mereka itu sebenarnya, sudah punya keluarga tapi karena sesuatu hal akhirnya dicabut keanggotaannya sehingga kesulitan bekerja. Mereka ini sampai sekarang memang masih bekerja di terminal namun tetap dalam pantauan kami,” ujarnya.

Disinggung mengenai tiket bodong, Kaniman mengaku tidak setuju. “Tiket bodong itu sudah salah karena tidak memberikan penjelasan yang akurat mengenai nama perusahaan otobus (PO), tujuan perjalanan maupun tarif secara jelas. Oleh sebab itu kepada kawan-kawan kami yang tidak tergabung dalam Habma, selalu kami imbau tidak melayani urusan tiketing melainkan hanya bertanggung jawab kepada pengisian penumpang,” tegasnya.

Kasubag TU UPTD Terminal Tirtonadi, Riza Al Basar menerangkan tidak menemukan lagi calo yang menjual tiket bodong kepada calon penumpang. “Hari ini sudah tidak ada temuan lagi. Kami berharap sampai H+7 nanti, sudah tidak ada lagi calo yang menjual tiket tanpa PO dengan tarif gila-gilaan,” tandasnya.

aps

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…