Minggu, 12 September 2010 23:41 WIB Wonogiri Share :

Diduga tak siap, debat Cabup-Cawabup kurang menggigit

Wonogiri (Espos)–Empat pasangan calon bupati (Cabup) dan calon wakil bupati (Cawabup) Wonogiri mengikuti debat yang digelar pada hari terakhir tahapan kampanye Pemilu kepala daerah (Pilkada) 2010, Minggu (12/9), di Gedung Giri Wahana Kompleks GOR setempat.

Diduga karena kekurangsiapan psikologis maupun materi dari para calon, debat tersebut menjadi kurang menggigit. Konsep yang direncanakan semula di mana antarpasangan calon mestinya bisa saling berdebat pendapat ternyata tak berjalan sama sekali.

Akibatnya, debat berlangsung nyaris sama persis seperti saat penyampaian visi-misi di Gedung DPRD, yang menjadi pembuka tahapan kampanye, 27 Agustus lalu. Masing-masing pasangan calon menjawab pertanyaan dari tiga panelis, yaitu Dosen Unsoed Purwokerto, Arief Suyono, Dosen UTP Solo, Rini Hardiyani Pratikto, dan Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Wonogiri, Wibowo Mukti Samadi, dengan pemaparan tanpa ada diskusi atau saling berbantah.

Bahkan, gangguan teknis seperti yang terjadi pada saat pasangan calon nomor dua, Sutadi dan Hj Paryanti menyampaikan visi misi pada 27 Agustus lalu pun terulang kembali. Hal itu mengundang reaksi keras dari pendukung pasangan tersebut. Mereka merasa tidak terima dan meminta perpanjangan waktu.

Dari sisi materi pun, masing-masing pasangan calon sangat terlihat tidak siap. Beberapa terlihat gelagapan menjawab pertanyaan dari panelis sehingga jawaban yang diberikanpun keliru. Padahal, pertanyaan yang diberikan cukup mudah.

Misalnya tentang bentuk badan hukum pengelolaan rumah sakit umum daerah (RSUD) yang diamanatkan UU No 44/2009 tentang Rumah Sakit, mereka menjawab badan usaha milik daerah (BUMD). Padahal, belakangan santer diberitakan RSUD akan diubah menjadi badan layanan umum daerah (BLUD) untuk menyesuaikan dengan UU tersebut.

Salah satu penonton debat, Sriyanto, kepada Espos mengungkapkan kekecewaannya karena para calon itu ternyata tidak begitu menguasai materi. Menurut penilaiannya, hal itu karena mereka tidak siap. “Mereka hanya menyoroti hal-hal yang umum. Mestinya, mereka melibatkan para pakar di dalam tim sukses mereka untuk menyiapkan konsep dan menjabarkannya menjadi materi program dan visi misi mereka. Tapi kelihatannya tidak satupun pasangan calon yang melakukan itu,” ujarnya, saat ditemui di sela-sela acara.

Sementara itu, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wonogiri, Joko Purnomo mengatakan sebenarnya sejak awal sudah disampaikan mengenai kisi-kisi bidang yang akan diperdebatkan dalam acara itu. “Tapi mungkin karena ketidaksiapan secara psikologis, harus berdebat dan berbicara di hadapan panelis dan pendukung sendiri, disiarkan melalui stasiun radio, mereka jadi terkesan tidak menguasai materi,” jelas Joko.

Menurut Joko, debat itu disiarkan melalui dua stasiun radio yaitu RRI dan RSPD. Mengenai kerusakan teknis saat pasangan nomor dua menyampaikan materi, Joko mengatakan itu tidak ada unsur kesengajaan. Pihaknya sudah mengecek kesiapan sound system sejak pagi dan tidak menjumpai masalah.

shs

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…