Minggu, 12 September 2010 15:38 WIB Ekonomi Share :

Daya saing RI idealnya masuk 20 besar

Jakarta–Daya saing Indonesia yang naik 10 peringkat dari 54 menjadi 44 sudah menjadi kebanggan tersendiri bagi pemerintah. Padahal seharusnya Indonesia bisa berpeluang meraih peringkat 20 besar asalkan masalah infrastruktur dan reformasi birokrasi bisa dibereskan.

“Saya menyambut gembira naiknya peringkat daya saing kita diposisi ke-44, prestasi yang baik sekaligus ironis,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Sandiaga Uno, Sabtu (11/9)

Sandi menjelaskan, capaian peringkat daya saing ke-44 justru dicapai pada saat Indonesia tengah minim membangun infrastruktur dan tidak optimalnya pelaksanaan reformasi birokrasi. “Coba saja kalau dua PR (pekerjaan rumah) ini bisa diselesaikan bukan tidak mungkin kita di level top 20,” katanya.

Sandi menuturkan, pendapatnya cukup beralasan karena saat ini saja Indonesia sudah masuk jajaran negara G-20 sebagai cerminan besarnya kekuatan ekonomi Indonesia. Ia yakin dengan cepat  daya saing Indonesia akan terdongkrak, asalkan ada kerja keras dari pemerintah untuk memperbaiki daya saing.

“Jadi next step-nya musti dituntaskan, kerja lebih keras dan lebih cepat lagi. Idealnya kita diposisi 20 besar,” katanya.

Berdasarkan laporan Global Competitiveness Report 2010-2011 yang dilansir oleh World Economic Forum (WEF) yang berkantor di Jenewa, Swiss. Daya saing Indonesia naik menjadi posisi 44 dari 144 negara dengan skor 4.43 dari posisi sebelumnya tahun 2009-2010 yaitu posisi 54. Indonesia sendiri berada dibawah langsung negara Barbados yang menempati posisi 43 dengan skor 4.45.

Daya saing negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia menempati posisi 26 dengan skor 4.88 atau turun dari GCI 2009-2010 yaitu posisi 24. Negara tetangga Indonesia lainnya yaitu, Thailand berada di posisi 38 dengan skor 4.51 atau turun dari posisi 36.  Brunai Darussalam masih diatas angin, posisi negara kerajaan ini menempati posisi 28 dengan skor 4.75 atau naik dari posisi sebelumnya yang hanya 32.

Sementara posisi Indonesia dengan negara pulau Singapura terpaut sangat jauh, Singapura berada di posisi 3 dengan skor 5.48 bersaing ketat dengan Swedia yang menduduki posisi 2 yang sebelumnya di posisi 4 dan Swiss menduduki posisi 1 dengan skor 5.63, tetap bertahan dari tahun lalu.

Beberapa hal yang masih terpuruk dan harus menjadi perhatian Indonesia adalah soal kondisi infrastruktur Indonesia masih berada di posisi 82, kondisi jalan  berada di posisi 84 dan ketersediaan pasokan listrik di posisi 97 dan lain-lain.

dtc/tiw

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…