Sabtu, 11 September 2010 14:04 WIB News Share :

Keluar dari Lapas dengan kepala tegak

Lebaran tahun ini benar-benar memiliki arti tersendiri bagi Lukman Sarsito. Dari ratusan orang Narapidana (Napi) yang mengikuti Salat Id di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Klaten, dialah yang bisa menebar senyum paling lebar.

Hari itu, Jumat (10/9), Lukman benar-benar merasa plong. Permohonan remisi untuknya yang diajukan oleh pihak Lapas Klaten akhirnya dikabulkan. Dan dengan pemotongan masa hukuman, dia bisa bebas hari itu bersama dua Napi lainnya. Penampilannya hari itu juga sangat berbeda dengan ratusan Napi lainnya. Dia tidak mengenakan baju koko atau baju putih seadanya, namun mengenakan seragam hitam kebesarannya yang bertuliskan PO Safari.

Lelaki 43 tahun asal Joyotakan, Serengan, Solo ini memang aslinya berprofesi sebagai pengemudi bus antara kota. Sayangnya, profesi yang dilakoninya untuk menafkahi keluargnya selama bertahun-tahun itu malah membawanya ke kursi pengadilan. Dari pengadilan, hakim memutuskan hukuman dua tahun penjara baginya.

“Saya masih ingat kejadian itu, tanggal 24 Januari 2009 di Teras, Boyolali,” katanya tanpa ragu.

Masih teringat jelas dalam ingatannya pada hari itu bus yang dikemudikannya mengalami tabrakan dengan sebuah mobil omprengan. Kecelakaan itu tak hanya menimbulkan serius, tapi juga menyebabkan pengemudi mobil itu kehilangan nyawanya. Lukman pun terpaksa berurusan dengan hukum dan akhirnya menjalani hukumannya.

Karena tempat kejadian perkara saat itu ada di Boyolali, pertama kali hukuman itu dijalani di Lapas Boyolali. Beberapa waktu kemudian dia dipindahkan ke Lapas Klaten. Di Lapas ini, dia pun masih dikunjungi oleh anggota keluarganya.

Praktis, pekerjaannya pun terhenti saat dia harus menjalani proses hukum yang telah diputuskan oleh pengadian. Istrinyapun terpaksa menghidupi sendiri ketiga orang anaknya yang masih butuh sekolah. “Beruntung istri saya sendiri punya pekerjaan. Jadi dia yang menopang keluarga selama saya di sini,” ujarnya.

Selama menjalani hukuman, Lukman mengaku sering dikunjungi keluarganya. Namun dalam keluarganya, hanya istri dan anak pertamanya saja yang tahu kalau dia sedang berada di dalam Lapas. Maklum anak pertamanya sudah sekolah di SMA. Sedangkan dua orang anaknya masih kecil dan belum tahu apa yang terjadi pada bapaknya. Yang mereka tahu, bapaknya sedang bekerja di luar kota.

Kini, pemotongan masa hukuman yang baru saja disetujui oleh Kemenkumham benar-benar menjadi harapan tersendiri baginya. Saat petugas Lapas membacakan namanya dalam daftar nama penerima remisi Jumat lalu, dia mengenakan seragam yang biasa dikenakan saat menjadi sopir bus.

Memang hingga kini, dia tidak kehilangan pekerjaannya walaupun dia berurusan dengan hukum. PO tempatnya bekerja tampaknya memang tidak mempersoalkan masalah hukum yang selama ini membelitnya. Bahkan saat dia keluar Lapas, perusahaannya sudah menyiapkan job untuknya perjalanan ke Sumatera. Dia pun mengaku siap menjalani pekerjaannya walaupun resiko buruk sudah dialaminya.

“Mau bagaimana lagi, sebenarnya istri sudah melarang. Tapi kan ini pekerjaan dan mau dapat uang dari mana kalau tidak dikerjakan?” katanya.

Berkaca dari pengalaman buruknya, dia mengaku kini lebih berhati-hati di jalanan. Namun kejadian buruk yang pernah dialaminya tampaknya tidak membuatnya trauma. Hanya pasrah saja dalam menghadapi kembali pekerjaan lamanya. Yang jelas, Jumat lalu dia keluar dari Lapas dengan kepala tegak karena yang terjadi adalah kecelakaan, bukan kejahatan.

ama

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…