Sabtu, 11 September 2010 14:09 WIB News Share :

Front tuna rungu sesalkan tewasnya Joni akibat antre di Istana

Jakarta — Insiden tewasnya seorang tuna netra (Joni) saat sedang mengantre pembagian uang di Istana Negara dinilai sebagai tragedi. Beberapa perwakilan tuna rungu mengecam kejadian itu.

“Mengutuk dan mengecam insiden tewasnya saudara kami dari tuna netra yang menjadi korban menunggu pembagian uang Rp 300 ribu dari SBY,” ujar aktivis Front Tuna Rungu Demokrasi, Michael Harding saat jumpa pers di markas Bendera, Jl Diponegoto, Jakarta, Sabtu (11/9).

Harding mengatakan, pemerintah dalam hal ini panitia acara Open House Istana Negara harus bertanggungjawab atas insiden tersebut. Tewasnya Joni dinilai sebagai bukti gagalnya negara menjaga keselamatan warga negaranya.

“Yang meminta hadir ke Istana adalah undangan Presiden malah justru malapetaka yang didapatkan oleh rakyat,” kecamnya.

Menurut Harding yang juga seorang tuna rungu dan tuna wicara, penyandang cacat memiliki hak yang sama dengan manusia normal. Ia menuding kasus ini murni karena ada kelalaian dari pihak Istana.

“Sangat tragis dan memalukan. Pemerintah harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Harding menganggap, kasus ini tidak bisa dibiarkan dan dianggap selesai. “Karena di sana pasti ada kelalaian,” tudingnya.

Sebelumnya pihak Istana menegaskan bahwa Joni meninggal karena sakit jantung. Dia pun meninggal saat berada di luar kompleks Istana. Namun demikian pihak Istana tetap memberikan santunan Rp 10 juta bagi keluarga korban.


dtc/tya

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…