Sabtu, 11 September 2010 21:53 WIB News Share :

Dengan jamu bisa bangun rumah hingga kuliahkan anak

Sukoharjo (Espos)–Sore itu, Sabtu (11/9) Sarikem, 60, tampak merebahkan tubuhnya di lantai beralaskan tikar yang terbentang di lantai ruang tengah rumahnya di RT 1/RW X Dukuh Tambakan, Desa/Kecamatan Nguter.

Wanita separuh baya itu sepertinya menikmati kebersamaan dengan anak, menantu, cucu dan suaminya, Jumadi, 70, sembari menonton televisi yang juga berada dalam ruangan yang sama.

Kebersamaan seperti itu tidak dapat dia rasakan setiap hari, hanya waktu-waktu tertentu dia bisa berkumpul dengan keluarganya seperti hajatan keluarga dan tentu saja saat merayakan Lebaran.

Maklum, sehari-hari ibu beranak enam ini merantau berjualan jamu gendong hasil racikannya sendiri yang sudah dilakoninya sejak 1966 di Pasuruan, Jawa Timur. Mudik ke kampung halaman selama Lebaran merupakan tradisi wajib yang harus dilakukan bagi para perantau.

Beruntung, tekadnya membantu perekonomian keluarga kini bisa dia nikmati. Sebuah rumah bergaya limasan Jawa yang lengkap dengan beberapa perabot rumah tangga merupakan buah hasil kerja kerasnya.

Tidak hanya itu, perempuan yang masih tampak bugar di usianya ini juga bahkan berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan adapula yang kuliah.

Simbol keberhasilan Sarikem juga terlihat dari perhiasan emas yang dikenakannya. Sebuah gelang emas berbentuk rantai tampak melingkar manis di pergelangan tangan kirinya, di sela-sela jari manisnya tiga buah cincin emas juga tampak berderet.

Walaupun hanya berjualan jamu gendong, Sarikem juga ternyata cukup akrab dengan teknologi. Buktinya, meski hanya menggunakan <I>handphone<I> tipe klasik, namun dia sudah cukup terbiasa menggunakan alat teknologi untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya.

Sarikem tidak sendiri, puluhan warga khususnya kaum perempuan di desanya juga banyak yang melakoni hidup sebagai penjual jamu. Di kampungnya saja, sedikitnya 25 warga menggantungkan hidupnya dirantauan sebagai penjual jamu gendong.

Maka tak heran, jika hari biasa kampung tersebut cukup sepi, namun selama Lebaran ini suasana menjadi cukup ramai lantaran penghuninya pulang mudik, beberapa mobil berpelat luar daerah juga tampak keluar masuk perkampungan.

Sarikem mengakui, berjualan jamu gendong keliling membawa berkah tersendiri bagi dirinya dan keluarganya. Selama tenaganya masih kuat, usaha turun temurun dari leluhurnya itu akan tetap dia lakoni.

“Dulu setiap hari bisa dapat Rp 100.000 sekarang malah sepi pembeli, tapi saya tetap bersyukur karena meskipun berjualan jamu kehidupan keluarga bisa tercukupi, saya akan berhenti jualan jamu kalau tenaga saya sudah tidak kuat lagi,” katanya ketika ditemui <I>Espos<I>, Sabtu di rumahnya.

Dia mengatakan, dulu berkah berjualan jamu juga sempat dia bagikan dengan lingkungan sekitarnya bersama warga lainnya berswadaya membantu pembangunan jalan kampung, tapi kini sejak program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri perdesaan (PNPM MP) maupun dana alokasi desa (ADD) aktif digulirkan, swadaya pembangunan tidak segencar dulu lagi.

“Dulu bersama perantau dan warga lainnya kami juga ikut swadaya membantu jalan kampung, tapi sekarang kalaupun ada dana ya inginnya ikut sumbangan,” katanya.

Sama seperti Sarikem, berkat berjualan jamu gendong selama puluhan tahun, warga lainnya, Suparti juga berhasil menyekolahkan dan mengulihkan keenam anaknya. Hanya saja, lantaran tenaganya sudah tua, Suparti memilih pensiun berjualan jamu.

Ketua RT I Ngadiman mengatakan, selain di Dukuh Tambakan, sebagian besar warga di beberapa dukuh di Nguter seperti Kunden, Tangiran, Jetis, Gunungan, Ngambilembe banyak yang menggantungkan hidupnya merantau berjualan jamu ke luar daerah seperti Surabaya, Pasuruan, Lamongan, Gresik, Tuban, Jakarta dan Purbalingga. Usaha itu cukup menjanjikan lantaran dapat membantu perekonomian keluarga.

“Merantau berjualan jamu di daerah kami sudah dilakoni turun temurun oleh warga sejak tahun 1954, biasanya kalau waktu Lebaran seperti ini perantau banyak yang pulang,” katanya.


ufi

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…