Sabtu, 11 September 2010 12:55 WIB News Share :

Boediono di mata Mbok Iyem, sang juru masak kesayangan

Jakarta –– Sekilas tidak ada yang istimewa dari sosoknya, namun siapa yang menyangka bila Tumiyem sangat dekat keluarga Wakil Presiden. Tumiyem, atau yang biasa disapa ‘Mbok’ adalah juru masak kesayangan orang nomor dua di negeri ini.

Tumiyem telah mengabdi sejak Boediono masih menjadi Menteri Keuangan. “Sudah 9 tahun ikut bapak. Waktu itu Bapak masih jadi Menteri Keuangan,” ujar perempuan 65 tahun ini kepada detikcom di rumah dinas Wapres Jl Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/9).

Mengabdi selama 9 tahun membuat Tumiyem atau yang akrab di sapa Mbok Iyem ini tahu betul sifat majikannya. Di matanya sosok Boediono dan Ibu Herawati adalah sosok yang sangat sederhana.

“Bapak sama Ibu itu sangat sederhana, baik dan ramah. Bapak sama Ibu baik sama siapa saja, termasuk sama saya,” ujarnya.

Sebagai juru masak, Tumiyem juga tahu betul masakan favorit RI dua tersebut. Bukan Japanese Food, Italian Food atau makanan impor lainnya kegemarannya, melainkan makanan tradisional yang jauh dari kesan mewah.

“Bapak sukanya sayur bening, sayur oyong sama lodeh. Tahu tempe Bapak sama Ibu juga suka,” terang perempuan asal Solo ini.

Dalam perbincangan singkatnya dengan detikcom, Mbok Iyem mengaku tidak menyangka bila dirinya bisa bekerja pada salah satu tokoh penting di Negeri ini. Mbok Iyem awalnya hanya dikenalkan salah satu saudaranya yang bekerja sebagai supir di kolega Ibu Herawati.

“Saudara saya ada yang jadi supir teman Ibu. Terus saudara saya disuruh majikannya nyari tukang masak buat Ibu (Herawati), lalu saya yang disuruh,” terangnya.

Dalam kesehariannya, Mbok Iyem juga sangat dekat dengan Boediono dan Ibu Herawati. Mbok mengaku bahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi dengan keduanya adalah bahasa Jawa Halus.

“Kalau saya mau ketemu Ibu saya ngebel sama Ibu. ‘Ibu kulo bade minggah’ (Ibu saya mau keatas),” terangnya.

Sejak menjadi Wakil Presiden Boediono tinggal di rumah dinas Wapres di Jalan Madiun No 1, sedangkan Living house nya berada di lantai 2 rumah dinas Jl Diponegoro. Dan tidak semua orang bisa naik ke lantai 2 tersebut kecuali sudah mendapat ijin.

“Ntar Ibu (Herawati)  bilang, ‘monggo Mbok’ (Silahkan mbok),” tuturnya.

Momen lebaran tahun inipun spesial di mata Mbok Iyem, pasalnya dirinya termasuk orang pertama yang bisa bersilaturahmi dengan Boediono dan Ibu Herawati yang dilantik menjadi Wapres pada Oktober 2009 lalu.

“Habis Bapak sama Ibu Sholat di Istiqlal, saya langsung lahir bathin sama Bapak dan Ibu,” imbuhnya.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…