Ilustrasi (Dok/JIBI/Solopos)
Kamis, 9 September 2010 14:37 WIB Klaten Share :

Bus-bus besar juga jadi momok

Klaten (Espos)–Bus-bus AKAP dengan trayek Solo-Jogja memang sudah dikenal dengan kesan ugal-galan di jalanan. Bagi mereka yang sudah sering melintasi Jalan Raya Solo-Jogja, tentu tak heran jika ada sopir bus yang tak menghiraukan rambu-rambu lalu-lintas.

Jika banyak pengguna jalan yang kuatir dengan bus yang ugal-ugalan, demikian pula dengan para sukarelawan yang ikut diterjunkan untuk pengamanan lalu-lintas. Menghadapi peningkatan arus mudik menjelang dan sesudah lebaran, aparat kepolisian menerjunkan anggota Saka Bhayangkara yang notabene adalah siswa siswi SMA.

Walaupun sudah mendapatkan pelatihan khusus tentang teknik pengendalian lalu-lintas, tetap saja muncul rasa miris di hati para anggota pramuka ini. Maklum, menjelang Lebaran seperti ini yang mereka hadapi bukan lagi pengemudi yang lewat di jalan depan sekolah, melainkan kendaraan jarak jauh seperti bus antar kota dan mobil berkecepatan tinggi.

“Itu yang kita takutkan. Kalau soal pengemudi yang bandel, ada banyak sekali di sini. Dan yang paling menakutkan ya bus-bus yang jalannya kencang itu,” kata Wigati, anggota Saka Bayangkara yang diterjunkan di perempatan Delanggu, Klaten.

Ulah para sopir yang ugal-ugalan memang sering mendatangkan kekhawatiran sendiri. Ironisnya, banyak dari mereka yang tidak patuh dengan pengatur lalu-lintas. Para anggota Saka Bayangkara ini pun mengaku sangat menyadari hal itu. Pertama, status mereka jelas bukan polisi. Yang kedua, mereka juga tidak mengenakan seragam seperti layaknya aparat pengamanan lalu-lintas, melainkan hanya memakai seragam pramuka biasa.

“Mungkin mereka merasa kami bukan polisi dan masih tampak seperti anak sekolah. Makanya mereka berani tidak patuh,” sambung Nuri yang juga diterjunkan di titik yang sama.

Walaupun cukup berisiko, mereka mengaku melakukan tugasnya tanpa paksaan. Bahkan menurut mereka, keputusan untuk terjun ke jalanan pada Lebaran kali ini diambil oleh Saka Bayangkara sendiri.

Pada tahun-tahun sebelumnya, mereka tidak terjun ke lapangan untuk membantu kelancaran arus mudik. Baru pada tahun ini agenda tersebut dilakukan dengan mengisi titik-titik rawan macet yang tidak dijaga aparat.

Untuk menjalankan tugas yang cukup berisiko tersebut, mereka memang sudah dilatih di Polres Delanggu selama beberapa bulan. Beberapa di antara anggota yang diterjunkan bahkan belum genap setahun bergabung dengan satuan khusus pramuka tersebut.

“Ini karena sebelumnya kami dapat penyuluhan dari Pemkab untuk bergerak saat Lebaran,” kata Sarwanto, anggota Saka Bayangkara Delanggu.

Menghadapi begitu banyak pengemudi, tentu menghabiskan banyak energi. Mereka mulai mengatur arus kendaraan mulai pukul 08.30 WIB dan berakhir pada pukul 11.30 WIB.

Di tengah panas terik akhir Ramadan kali ini, beberapa di antaranya mengaku cukup lemas karenanya.
“Tapi kami tetap puasa kok, Mas. Apalagi ini hari terakhir jadi tidak boleh bolong,” ujar Wigati.

ama

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…